BUKU yang ada di depanku tidak tampak menarik; warnanya abu-abu pudar dengan reproduksi etsa yang juga berwarna putih-kelabu pucat. Serba tidak menarik di mata. Judulnya pun panjang: Het Voormalige Batavia: Een Hollandse Stedestichting in de Tropen, Anno 1619 (Utrecht: GJB. 1954).
Buku kecil tentang penataan kota Batavia, yang ditulis oleh Ir. HA Breuning itu, dibuka dengan kata-kata: "... bila batu dapat berbicara ..." Batu-batu di Jakarta masakini akan berbicara tentang Batavia tempo doeloe. Tidak semua bebatuan itu mempunyai cerita tentunya karena ada pula yang baru kemarin sore diletakkan sebagai bagian dari gedung ini atau itu.
Breuning menulis bukunya untuk mengenang mantan walikota Batavia, Ir EA Voornemen (walikota terakhir di zaman Hindia-Belanda) dan Ir T. Karsten, arsitek dan ahli perencanaan kota. Bukunya membahas perkembangan tata kota Batavia. Yang membuat buku itu unik adalah pendekatannya. Breuning menelusuri perkembangan Batavia dengan meneliti denah kota itu.
Dari denah-denah Batavia, Breuning menduga bahwa seperti juga Kerajaan Banten, Jacatra/Batavia pada awal abad ke-17 merupakan desa yang terlindung dan dikelilingi oleh tembok batu. Dalam buku berjudul Begin ende Voortgangh (Amsterdam: Isaac Commelin en Jansonius, 1646) mengenai pelayaran laksamana Cornelis Matelief de Jonge terdapat sebuah ilustrasi yang menggambarkan Jacatra dipandang dari laut. Apakah ilustrasi itu menggambarkan Jacatra dengan rinci dan tepat? Entahlah. Jacatra yang pernah ada tak lagi bersisa.
Berbeda dengan peta-peta kontemporer, Google Earth dan segala macam gambar dari Global Positioning System(s), denah kota Batavia pada awal kedatangan Belanda di nusantara bukannya dimaksudkan untuk memudahkan orang mencari jalan, tetapi seringkali dibuat sebagai ilustrasi untuk tulisan mengenai Batavia.
Denah kota Batavia bahkan juga digrafir pada sebuah medali penghargaan untuk Gubernur-Jenderal Specx. Di Tropenmuseum, Amsterdam terdapat peta Kastil dan Kota Batavia pada tahun 1667. Di peta itu, terdapat lukisan Kastil Batavia di latar depan dengan kota Batavia yang terbentang luas di belakangnya. Di bagian bawah peta itu, terdapat enam buah peta kecil-kecil yang menunjukkan perkembangan kota Batavia sampai tahun 1667.
Lukisan denah-denah itu tidak sekedar menggambarkan letak Kastil Batavia, benteng, kanal dan Sungai Ciliwung saja. Banyak bangunan penting digambarkan dengan rinci sehingga dapat diketahui bahwa atap Raethuys berbentuk kubah dan loji Inggris yang bertembok batu terdapat di seberang Kastil Batavia.
Adanya denah yang berupa lukisan-lukisan rinci itu memungkinkan kita dapat membayangkan pemandangan dan suasana kota Batavia zaman baheula. Walaupun batu yang pernah ada kini sudah tergerus waktu menjadi pasir, untunglah denah dan lukisan-lukisan itu masih dapat menyampaikan cerita bebatuan tua di Batavia kepada kita! (*)
frieda.amran@yahoo.com (anggota Asosiasi Antropologi Indonesia)