| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Langganan Banjir Dari Era Tarumanegara (3-Habis)
Ilustrasi banjir di Batavia
Kamis, 19 Januari 2012 | 15:30 WIB

PADA tahun 1872, banjir besar kembali menerjang dengan volume air yang melebihi 1 meter. Padahal, Departemen Tata Air dan Pekerjaan Umum kala itu sudah berdiri pada tahun 1854. Parahnya banjir membuat orang-orang menciptakan istilah baru buat Batavia, yakni Burgerlijke Openbare Werken, atau Batavia di bawah genangan air.

Berbagai solusi untuk memecahkan masalah banjir pun kembali bermunculan. Salah satunya adalah dengan membuat sodetan pada Kali Grogol dan Kali Krukut, yang dikendalikan dengan pintu-pintu air di hilir keduanya. Saluran baru kembali dibuat di Ciliwung, dari Gunung Sahari ke arah Ancol. Jembatan Merah, atau Jembatan Kota Intan, juga ikut dibuatkan pintu air. Nyatanya, usaha-usaha tersebut masih saja belum bisa mengatasi banjir besar di Batavia hingga tahun 1900-an.

Pemecahan tata air secara menyeluruh yang dianggap paling berhasil adalah perencanaan perbaikan tata air oleh Ir H. van Breen yang diajukan pada tahun 1911, dimana ia membangun banjir kanal. Pembangunan banjir kanal sendiri dimulai pada tahun 1913, dengan membuat saluran dari pintu air Manggarai yang melewati pinggiran kota, dan akhirnya bermuara di Muara Karang

Kala itu, bisa dikatakan masalah banjir bisa cukup teratasi, setidaknya di daerah Jakarta kota, atau yang biasa disebut daerah gedongan. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Jakarta yang kian membeludak pun membuat efektivitas banjir kanal menjadi hampir tidak ada artinya lagi.

Sebagai catatan, pada tahun 1930-an, jumlah penduduk Batavia pada saat itu hanya 300.000 orang.Setelah kemerdekaan dan resmi menjadi Ibukota Republik Indonesia, pembangunan dan pertambahan penduduk mengalami ledakan yang sangat dahsyat. Batavia, yang awalnya dirancang oleh Belanda sebagai kota dengan kapasitas maksimal 600.000 jiwa, pada tahun 1961 sudah dijejali oleh sedikitnya 3 juta jiwa.

Jumlah 3 juta pada saat itu sudah bertambah sekian kali lipat di tahun 1960-an keatas. Bahkan, banjir kanal yang dibangun Breen sudah mulai kehilangan fungsinya sejak tahun 1950-an. Perbaikan demi perbaikan pun dilakukan, sementara kota Jakarta dan penduduknya terus berkembang hingga tumpang tindih. Dengan demikian, solusi pemecahan banjir pun masih menyisakan tanda tanya besar, hingga sekarang?

Banu Adikara

Wartawan Warta Kota

 


Share on Facebook
-
A A A
Ada 0 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.