| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Orkes Budak Zaman Kompeni
Ilustrasi orkes di zaman Kompeni
Kamis, 19 Januari 2012 | 11:04 WIB

TIDAK seperti zaman sekarang yang hanya dipanggil untuk meramaikan pesta, tanjidor dulunya terkenal sekelompok pengamen di jalan-jalan di ibukota. Menurut seorang ahli sejarah Batavia lama. Dr. F. de Haan, tanjidor merupakan orkes budak pada zaman kompeni.

Jauh sebelum pertengahan tahun 1950-an, setiap Malam Tahun Baru, atau Tahun Baru Imlek, Jakarta kerap diramaikan oleh kelompok-kelompok musik tanjidor yang mampir dari rumah ke rumah lainnya untuk mengamen. Biasanya mereka mampir ke rumah di daerah Menteng dan pemukiman lainnya yang dianggap merayakan.

Asal usul tanjidor sendiri hingga kini belum diketahui secara pasti. Menurut seorang peneliti sejarah bernama Paramita Abdurachman, tanjidor diambil dari bahasa Portugis. Ada dua kata yang disinyalir menjadi asal usul nama tanjidor, yakni tanger yang berarti memainkan alat musik, dan tangedores yang berarti memainkan brass band, atau musik yang dimainkan pada pawai.

Seorang ahli musikologi asal Belanda, Ernst Heinz memaparkan bahwa dalam penelitiannya tentang musik rakyat di pinggiran kota dalam, disebutkan bahwa pemain musik daerah pinggiran adalah budak belian yang ditugaskan bermain musik untuk para majikannya.

Para pemusik, dan juga budak, itu adalah orang Indonesia yang diberi instrumen musik Eropa, seperti terompet, klarinet, serta tambur Turki, dan dititahkan untuk memainkan bermacam jenis musik pada pelbagai acara yang diselenggarakan.
Pada mulanya, para pemusik memainkan lagu-lagu khas Eropa dalam pesta dansa, polka, mars, lancier, dan lagu-lagu parade. Namun lambat laun, mereka juga mulai memainkan lagu-lagu dengan irama khas Betawi.

Para pemusik, yang tadinya merupakan bagian dari rumah tangga orang Barat dan khusus memainkan musik untuk mereka, perlahanlahan mulai melepaskan diri dari tradisi tersebut. Mereka mulai berkeliling secara rombongan, dan menamakan dirinya tanjidor.

Tradisi tanjidor terus bertahan di Jakarta, bahkan setelah adanya pelarangan mengamen pada awal tahun 1960-an. Hanya saja, fungsi mereka kini berubah. Kelompok ini tidak lagi disebut pengamen, tetapi lebih dikenal sebagai kelompok yang menerima panggilan untuk meramaikan hajatan, seperti sunatan, pesta rakyat, dan lainnya.

Banu Adikara, Wartawan Warta Kota


Share on Facebook
-
A A A
Ada 1 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Ratna Sari @ Selasa, 31 Januari 2012 | 14:54 WIB
info yang sangat luarbiasa, ooh nasibbangsa ini zaman kompeni
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.