Batavia dahulu memiliki 16 terusan yang terus diperluas sampai menghubungkan sungai-sungai di luar kota. Beberapa turusan yang hingga kini masih dapat dilihat adalah terusan Amanus di sebelah Barat Kali Angke, Jakarta Utara; terusan Bageracht yang menghubungkan Kali Angke dengan Kali Krukut di Jakarta Barat; dan terusan Mookervart di sepanjang Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Pembangunan terusan-terusan tersebut dilakukan antara tahun 1647 hingga 1686. Namun, pembangunan terusan yang terbilang efektif untuk lalu lintas air tersebut malah memperparah pengendapan lumpur. Alhasil, Batavia masih saja dihantui banjir.
Di tengah keadaan tata air yang masih carut marut, bencana besar menimpa Batavia pada tahun 1699. Gunung Salak meletus dengan hebatnya, sehingga mendatangkan banjir lumpur dari pegunungan. Banjir lumpur disertai hujan abu yang luar biasa lebat tersebut menyebabkan seluruh saluran air tersumbat lumpur.
Menumpuknya tanah di pesisir pantai juga kian memperparah drainase yang kala itu memang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya, garis pantai mengalami pergeseran sekitar 75 meter ke arah laut dalam kurun waktu satu bulan.
Sejak letusan Gunug Salak, lumpur selalu menyumbat seluruh saluran air di Batavia tiap hujan deras turun, sehingga banjir tak dapat terelakkan. Masyarakat yang melakukan pengerukan lumpur untuk mengatasi banjir pun tak sanggup lagi karena lumpur yang terlalu dan tebal. Alhasil, masalah banjir pun tak bisa teratasi. Masalah banjir pun bertambah akut akibat berdirinya kilang-kilang gula dan persawahan di luar kota. Karena kilang gula yang membutuhkan air selalu didirikan di tepi Ciliwung. Akibatnya sudah jelas, ampas tebu dan limbah pabrik yang dibuang ke kali pun memperparah penyumbatan saluran air. Meluasnya areal persawahan di luar kota juga dikatakan ikut andil dalam memperburuk saluran air.
Pada tahun 1700, Kompeni akhirnya mengerahkan tenaga rodi dari daerah Karawang, Ciasem, Pamanukan, dan Cirebon untuk membenahi terusan air di Batavia. Namun, Kompeni hanya mau menangani daerah yang menjadi kepentingan mereka. Sementara untuk terusan lain yang jauh dari wilayah Kompeni, warga harus mengurus sendiri. Namun, kebiasaan membuang sampah sembarangan yang akut membuat penyumbatan saluran air tidak bertambah baik. Sampah seperti daun-daun, kotoran kuda, puing bangunan, dan plastik sudah menghiasi hampir seluruh terusan di Batavia.
Sebenarnya, bak sampah sudah disediakan semenjak tahun 1674. Namun, pengangkutannya yang tak menentu membuat sampah-sampah yang dibuang kian menumpuk dan menimbulkan bau tak sedap. Perbaikan tata air pun kembali dimulai pada tahun 1746. Air banjir dialihkan dengan menggali saluran-saluran baru dari terusan-terusan yang melingkungi kota di sebelah timur laut. Pintu-pintu air juga mulai dibangun di daerah Kasteel, dengan maksud melancarkan pembuangan lumpur. Apa mau dikata, pintu air tersebut malah membuat endapan semakin besar. Usaha yang sia-sia itu membuat warga meninggalkan proses perbaikan begitu saja.
Keadaan air terus memburuk hingga pertukaran abad ke 19. Gubernur Jenderal Daendels yang kala itu menjadi pemegang kuasa pertama dari pemerintah Belanda mencoba mencari solusi dengan memindahkan kota ke Weltevreden, sembari membiarkan kondisi tata air kala itu sebagaimana adanya. Seperti yang dikatakan banyak orang, janganlah menyelesaikan masalah dengan menghindarinya.
Akibat pembenahan yang tidak dilanjutkan, banjir pun berkali-kali melanda Weltevreden pada pertengahan abad ke 19. Bahkan pada Januari 1832, sebuah pagelaran Deutsche Militaer Liebhaber-heater terpaksa dibatalkan mendadak karena banjir besar yang melanda Weltevreden. Di tahun yang sama, seorang peneliti alam tersohor bernama Junghun bahkan pernah ketinggalan kapal akibat terjebur ke dalam air saat sedang mengejar kapal.
Kondisi langit yang masih gelap ditambah permukaan tanah yang sudah terendam membuatnya tak bisa membedakan mana tanah mana air. Junghun yang salah memijak alhasil tercebur, dan kapal yang akan membawanya mengangkat sauh, dan berlayar meninggalkannya begitu saja dalam keadaan kuyup dan jengkel. (bersambung)
Banu Adikara Wartawan Warta Kota