| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Pernah Menjadi Museum Yang Terkenal di Dunia
Kamis, 28 Juli 2011 | 19:34 WIB

TAHUKAH Anda bahwa tanggal 18 Mei adalah Hari Museum Sedunia? Pernahkah Anda mengunjungi satu saja museum di Indonesia? Jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke museum, akan banyak pelajaran dan pengetahuan yang kita peroleh.

Lebih dari seratus tahun yang lalu seorang prajurit Belanda sudah membuktikan hal itu! Baginya, dengan mengunjungi museum yang terdapat di suatu negara dia dapat mengetahui kebudayaan dan peradaban masyarakat negara tersebut. Maka ketika dia menjejakkan kakinya di Batavia pada 1892, salah satu tempat yang langsung dikunjunginya adalah Museum Gajah!

Pengalaman dan kesan pertamanya pada Museum Gajah begitu mendalam hingga dituliskan dalam buku hariannya, dan diceritakan kembali oleh HCC Clockener Brousson dalam buku yang berjudul Batavia Awal Abad 20. Inilah kisahnya:

Saat berjalan-jalan di sekitar Koningsplein kami melewati sisi barat lapangan luas itu, dan melihat bangunan indah dengan gajah perunggu yang berdiri di atas sebuah batu di depannya. Bangunan itu bergaya Yunani kuno, dan menurut Abdullah, pribumi yang menjadi penunjuk jalan kami, oleh orang pribumi bangunan itu dikenal dengan nama Gedung Gajah (Het Olifantenhuis).

Gedung itu merupakan museum yang terkenal di dunia, dan perpustakaan dari perkumpulan terkenal, Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschap-pen (perkumpulan untuk seni dan ilmu pengetauan).

Perkumpulan ini berdiri sejak zaman Oost Indische Compagnie, tapi pada saat itu belum begitu kuat. Baru setelah berada di bawah kekuasaan Pemerintah Inggris (1811-1815), perkumpulan ini bangkit. Hindia Belanda, terutama Jawa, harus berterima kasih kepada Sir Stamford Raffles yang memberikan semangat untuk kemajuan perkumpulan ini. Sekarang perkumpulan ini menjadi salah satu perkumpulan ilmiah paling terkenal di dunia.

Ruangan besar dalam gedung itu diisi oleh koleksi lengkap masa lalu dan benda-benda seni dari seluruh bagian Nusantara. Di antaranya berbagai jenis senjata, alat pelindung, peralatan pertukangan, pakaian, perhiasan, anyaman, tenunan kain, alat-alat musik, model rumah, dan perahu. Semua itu memberikan gambaran yang baik untuk mengenal keterampilan dan bakat seni penduduk Hindia Belanda. (Lily Utami, pemerhati sejarah dan budaya)


Share on Facebook
-
Nilai 4 A A A
Ada 7 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Wisnu @ Senin, 8 Agustus 2011 | 09:25 WIB
hehehe...komen saya: susah mau plesiran di dalam negri. Wisatawan hrs siap2 digetok dgn harga jubilee, sampe toilet pun begitu. Sebenarnya harga hasil getokannya masih lbh murah atau sama bila dibanding wisata luar negri, cuma yg bikin jengkel harga normalnya jauh dibawah itu. Kalau diluar negri, perbedaan tempat biasa dan wisata gak terlalu bikin kaget....
wong java @ Kamis, 4 Agustus 2011 | 12:01 WIB
memang sungguh di sayangkan Generasi kita.. kalo boleh Usul, Museum-2 di jakarta Di tempatkan pada 1 lokasi saja, misal : TMII, jadi pemda tidak terlalu banyak anggaran, dlm perawatan, jadi tiap warganya Bisa mengunjungi Semua Museum di jakarta, hanya pergi di satu tempat.. Soale sungguh memprihatinkan Nasib museum2 ini.
enjha @ Kamis, 4 Agustus 2011 | 08:21 WIB
Gimana kalo anak anak muda digandeng buat ngurusin museum....biarkan semangat muda yang bekerja sementara para tetua museum mendampingi
harry @ Rabu, 3 Agustus 2011 | 11:41 WIB
sayang seribu sayang aksesnya semrawut..lahan parkir terbatas, seandainya naik angkutan umum polusinya sangat buruk, tdk tersedia kantin yg memadai, beberapa kaki lima banyak tp terkesan kotorr, pls pihak yg berwenang, aga cagar budaya kota tua menjadi tujuan wisata hendaknya dibenahi dr segala penjuru...
handogo sukarno @ Selasa, 2 Agustus 2011 | 13:33 WIB
sayang masyarakat indonesia lebih senang berdesak-desak di mall2 dp ke musum.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.