| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (5-selesai)
Makam massal dari tujuh tentara Belanda/Eropa dan 16 tentara KNIL asal Ambon, Menado dan Jawa di Bakongan (Aceh Barat). Mereka tewas dalam serangan klewang pada 12 Agustus 1905.
Sabtu, 10 Juli 2010 | 17:01 WIB

Perang Dunia Kedua dan pembunuhan Yahudi oleh Nazi memang sudah selayaknya mendapat tempat dalam pendidikan sekolah kita di Belanda. Kedua subyek sejarah tersebut beruntung mendapat tempat yang dominan dalam otak generasi muda kita. Tetapi hal itu juga sayangnya menimbulkan beberapa dampak negatif. Kapasitas otak relatif kecil dan kita khawatir tidak ada tempat lagi untuk subyek sejarah yang penting seperti Perang Aceh yang berlangsung selama 30, 40 atau bahkan 70 tahun. Juga terlalu sedikit, sangat sedikit perhatian yang diberikan para dosen untuk episode yang sangat berarti ini dalam sejarah kita.

 

Akibatnya adalah ingatan yang semakin terpinggirkan tentang perang ini. Hal ini diperburuk oleh banyaknya monumen kenangan dan peringatan di negara kita tentang Perang Dunia Kedua namun sangat sedikit sekali tentang Perang Aceh. Monumen dan tempat-tempat bersejarah di Aceh buat kita jauh letaknya dan dengan demikian juga tidak mudah untuk dikunjungi secara massal dari negara kita.

 

Begitu banyak monumen bertema Perang Dunia Kedua  namun  monumen Perang Aceh sampai sekarang nyaris tidak mendapat perhatian. Tampaknya ada kecenderungan kuat bahwa kecintaan kita pada kemerdekaan hanya berlaku untuk diri kita sendiri. Orang lain selalu salah dan harus merasa malu jika mereka mengancam dan merebut kemerdekaan kita, tetapi jika kita merampas kemerdekaan orang lain (misalnya rakyat Aceh), maka kita dengan sendirinya segera menerapkan standar keadilan yang berbeda atau kita mengalihkan perhatian ke arah lain.

 

Untungnya hal itu akan segera berakhir karena sejak tahun ini perubahan akan terjadi. Sekarang Komite 4 & 5 Mei (Komite di Belanda untuk memperingati Hari Kemerdekaan Belanda dari Pendudukan Jerman) bukan hanya memikirkan tentang kemerdekaan kita tetapi juga kemerdekaan semua orang di seluruh dunia.  Juga rakyat Aceh sekarang (dan juga pada masa lalu jika boleh saya tambahkan).

 

Bicara tentang monumen, kita pernah memiliki monumen Van Heutsz di Amsterdam. Tetapi karena Van Heutsz merupakan simbol perdebatan (Peter van Zonneveld telah merumuskannya dengan baik) (25), maka nama monumen tersebut diganti menjadi Monumen Indïe-Nederland (Indonesia-Belanda) dan berubah maknanya menjadi kenang-kenangan tentang hubungan antara Belanda dan Indonesia pada masa kolonial.

 

Tetapi monumen itu tidak terfokus pada Perang Aceh. Juga ketika monumen itu masih bernama Monumen Van Heutsz,  nyaris tidak seorang pun yang tahu bahwa itu adalah monumen Aceh milik kita. Van Heutsz adalah komandan militer di Aceh dan Gubernur Aceh antara tahun 1890-1904. Perang Aceh dimulai tahun 1873 dan berlangsung hingga 1942 (ada berbagai pendapat tentang hal ini).

 

Jadi ada Perang Aceh sebelum dan sesudah Van Heutsz. Sekitar empat atau lima Perang Aceh seluruhnya, setiap kali dengan komandan militer yang berbeda. Sudah saatnya dibangun sebuah monumen yang khusus untuk memperingati Perang Aceh, yang dimulai sejak invasi di Aceh tahun 1873 dan berakhir dengan perlawanan seluruh rakyat Aceh hingga keluarnya Belanda dari Aceh tahun 1942. Sebuah monumen tentang agresi dan pendudukan Belanda serta pembebasan Aceh.

 

Sebuah monumen yang menggambarkan sisi kemanusiaan dan kebiadaban Belanda dan Aceh yang terjadi selama masa itu. Kisah-kisah dalam buku sejarah juga harus lebih kaya, lebih menarik, lebih menghanyutkan, lebih komunikatif. Tentang Aceh dan Perang Aceh harus disediakan bukan lagi dana melainkan kreativitas yang informatif. Harus ada film atau serial televisi yang menarik tentang Perang Aceh  yang sungguh-sungguh menggambarkan daerah dan rakyatnya, yang menggambarkan Aceh seratus tahun yang lalu sebagaimana aslinya.

 

Otentik. Menampilkan bukan hanya orang Belanda tetapi juga para serdadu KNIL asal Ambon, Menado dan Jawa, para pejuang Aceh serta wanita dan anak-anak. Jadi bukan semacam tokoh karikatur pemberani yang diromantisasi ala Filipina sebagaimana film NCRV tahun 1996. Aceh dan Perang Aceh harus dihidupkan kembali. Untungnya pada tahun 2009 het Indisch Herinneringscentrum (Lembaga untuk memperingati sejarah tentang Indonesia) atau disebut juga IHCB di Bronbeek dibuka. Pertengahan Agustus 2010 akan diselenggarakan  pameran berjudul Het verhaal van Indië (Kisah tentang Indonesia)  di Bronbeek.

 

Artinya setelah esai ini selesai ditulis. Apakah IHCB  menampilkan kisah Perang Aceh dengan baik dan pameran tersebut berhasil, saya tidak dapat menjawabnya saat ini, tetapi saya harap akan demikian. Maka cukup banyak hal besar yang masih bisa dilakukan. Salah satunya tentu saja masih harus kita tunggu bagaimana seorang ilmuwan NIOD (Lembaga Dokumentasi Perang Belanda) bernama Elly Touwen-Nouwsma (26) yang mencintai ’kebaikan KNIL’ (dan para pahlawannya) (27) menyebut monumen KNIL, sebuah patung dada Van Heutsz dari perunggu, sebuah bangku dengan plakat bertuliskan Jendral van der Heijden (atau Kareltje Eénoog) dan patung tentang Perang Aceh di Taman Bronbeek untuk menggambarkan ’bagaimana seorang Aceh diancam akan dibunuh oleh seorang prajurit KNIL (yang heroik-Red)’.

 

Jika Elly-Touwen-Bouwsma  merasa gelisah, maka saya ingin menenangkan beliau. Patung yang sebaliknya juga ada. Patung penembak kanon Belanda yang gagah berani namun tidak terkenal yang pada peperangan di Mesjid Raya di Kutaraja digorok lehernya (oleh seorang pejuang Aceh) hingga jatuh dari tangga dan tewas di tangan teman-temannya (28). Tidak ada yang menentang sanjungan setinggi langit terhadap para jendral Belanda dan para serdadu mereka yang heroik dan berusaha menciptakan ketentraman dan kedamaian, juga tidak ada yang menentang Monumen Van Heutsz yang bombastis di Amsterdam, yang diresmikan dengan penuh keartistikan.

 

Jika saja di seberang bekas Monumen Van Heutsz ke arah Amsterdams Lyceum (Sekolah Menengah Amsterdam) di Valeriusplein sebuah tempat disediakan untuk sebuah monumen yang mencerminkan harapan, misalnya patung seorang anak lelaki Aceh yang duduk di bawah kerindangan bambu sebagai satu-satunya orang yang selamat ketika pembantaian terjadi di kampungnya di Kuto Rèh tahun 1904. Disebelahnya patung seorang serdadu KNIL yang besar dan tinggi sebagai latar belakang, mendongak, yaitu komandan KNIL Van Daalen yang memandang rendah pribumi. Terinspirasi oleh foto saat itu yang terkenal (29). Amsterdam, masyarakat Amsterdam, Belanda, niatkanlah bahwa patung tentang harapan itu akan dibangun. Siapa yang menyelamatkan seorang anak lelaki Aceh, maka menyelamatkan juga seluruh Aceh (30).

 

Kita juga seharusnya bersikap jelas dan tidak terlambat menyadari bahwa kita masih bisa belajar banyak dari Perang Aceh. Belajar untuk tidak tergesa-gesa dan melakukan persiapan yang baik sebelum memulai perang. Belajar untuk memeriksa kebenaran dari berita yang kita terima (Irak hingga Aceh!) Ancaman yang muncul tidak harus selalu diselesaikan melalui perang (Aceh yang di seberang lautan hingga bajak laut Somalia).

 

Bahwa orang lain juga mempunyai hak kemerdekaan yang sama dengan kita. Bahwa kita, orang Belanda, menggunakan standar keadilan ganda dalam usaha untuk menguasai dan menjajah bangsa lain sebagaimana halnya musuh dan lawan-lawan kita (Belanda melawan Aceh tahun 1873 hingga Nazi-Jerman melawan Belanda tahun 1940)-(31). Dan sejak serangan Belanda ke Aceh tahun 1873, terutama sejak tahun 1890-an ketika Snouck Hurgronje dan muridnya yang militer yaitu Van Heutsz terlibat maka semakin jelas bagi pihak Belanda bahwa bertempur dan meraih kemenangan di Aceh adalah sesuatu yang khusus, lebih daripada menyerang musuh di lapangan terbuka.

 

Usaha lebih diarahkan untuk bagaimana caranya mendapat dukungan dari masyarakat lokal, pegawai pemerintah dan para pemimpin spiritual. Untuk mempersempit ruang gerak para pejuang Aceh. Untuk diakui bahwa mereka telah melindungi masyarakat setempat. Untuk membantu tugas-tugas kepemerintahan. Untuk membangun jembatan dan jalan-jalan, untuk memperbaiki kampung-kampung, untuk membantu para petani, membangun mesjid dan ruang-ruang pertemuan masyarakat.

 

Setelah Irak dan Afghanistan kini Departemen Pertahanan Belanda mengeluarkan buku panduan doktrin baru yang diterbitkan dengan penuh kebanggaan, padahal pelajaran berharga yang sama sudah lama ada. Pengalaman 70 tahun Perang Aceh tidak berarti apa-apa bagi Departemen Pertahanan.

 

Sekarang akhir ’Periode Pemerintahan Beatrix’ semakin mendekat, maka saya ingin menyerukan hal ini pada Sang Ratu: Ratu, akan sangat indah sekali jika kita bisa berbaik kembali dengan rakyat Aceh, yang sudah berperang dengan kita begitu lama di masa lalu. Pada tahun 1873 kita mengumandangkan perang pada Aceh. Tetapi perdamaian dengan Aceh tidak pernah tercapai. Tidak pernah. Kini tiba waktunya untuk menyatakan penyesalan kepada Aceh. Permintaan maaf sejujur-jujurnya dari hati yang terdalam. Ingatan akan Perang Aceh sama sekali belum mati.

 

(Ditulis oleh Nico Vink, diterjemahkan oleh Hasti Tarekat)

 

 

Daftar Rujukan

 

Basry, Muhamad Hasan, Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh,  1990

Bossenbroek, Martin, Geweld als therapie, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De verbeelding van een koloniale  oorlog, Penerbit Bert Bakker, Amsterdam 2001

Blokker, Jan, Veel geleerd, niets onthouden, dalam: NRC Handelsblad, 4 September 2009

Blokker, Jan, Nog altijd de oorlog van Lou de Jong, dalam: NRC Handelsblad, 14 Mei 2010

Bruinsma J.F.D., De verovering van Atjeh’s Grote Mesigit, 1889

De Groot, Menke, Onze vestiging in Atjeh, Drogredenen zijn geen waarheid, van G.F.W. Borel, Penerbit

     Eburon Delft, 2009

Hadi, Amirul, Exploring the Acehnese Conception of War and Peace, A Study of Hikayat Prang Sabi, makalah yang dipresentasikan pada First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies, Banda Aceh, 24-27  Pebruari 2007

Hogervorst, Lucie, Van etnocentrisme naar cultuurrelativisme, skripsi doktoral, Rotterdam, 2004

Hogervorst, Lucie, De (niet te) vergeten oorlog in Atjeh, dalam: Penerbitan Khusus 65 jaar na de Tweede

     Wereldoorlog, 2010

Langeveld, Herman, Dit leven van krachtig handelen.  Hendrikus Colijn 1869-1944, Deel 1: 1869-1933,

     Atjeh,  Penerbit  Balans, 1998

Marzuki, Marlina, Dodaidi, More than songs of lullaby, Lhokseumawe State Polytechnic, 2009

Paasman, Bert, Wij gaan naar Atchin toe, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De verbeelding van een koloniale  oorlog, Penerbit Bert Bakker, Amsterdam 2001

Rep, Jelte, Atjeh, Atjeh!, Penerbit de Prom, Baarn 1996

Székely-Lulofs, Madelon, Tjoet Nja Din, Amsterdam 1948, ’s-Gravenhage 1985

Touwen-Bouwsma, Elly, Het Bronbeekpark, dalam: Madelon de Keizer en Marije Plomp  (red.), Een open

     zenuw. Hoe wij ons de Tweede Wereldoorlog herinneren,Penerbit Bert Bakker, Amsterdam, 2010

Van ’t Veer, Paul, De Atjeh-oorlog, Penerbit de Arbeiderspers, 1969

Vink, Nico, Verbannen uit Indië (1936-1945), Penerbit Walburg Pers, 2007

Vink, Nico en Mehmet Ozay, Wat weten Atjehers van de Hollandse Koloniale Oorlog in 

     Atjeh?, Januari 2010, penelitian yang belum diterbitkan.

Wekker, Hoe beschaafd Nederland in de twintigste eeuw vrede en orde schept op Atjeh, 17 artikel

     dalam De Avondpost, Oktober 1907

Zentgraaff, H.C., Atjeh, Batavia, 1938

Zonneveld, van, Peter, De Van Heutsz-mythe, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De  verbeelding van een koloniale oorlog, Penerbit  Bert Bakker, Amsterdam, 2001 

 

Catatan

(1)   Wekker 1907                                   (12) Bossenbroek 2001                           (23) Marzuki 2009 

(2)   Székely-Lulofs 1948/1985              (13) Langeveld 1998                               (24) Vink en Ozay 2010

(3)   Blokker 2009                                   (14) Székely-Lulofs 1948/1985              (25) Van Zonneveld 2001 hal. 139-154

(4)   de Groot 2009                                 (15) Faber 1988                                      (26) Touwen-Bouwens 2010 hal. 105

(5)   Paasman 2001 hal. 159/160             (16) Van ’t Veer 1969                             (27) Blokker 2010

(6)   Paasman 2001 hal. 51                      (17) Dolk 2001                                       (28) de Groot 2009 hal. 24

(7)   Paasman 2001 hal. 56                      (18) Hogervorst 2004                                     Basry 1990 hal. 99         

(8)   Paasman 2001 hal. 63                      (19) Hogervorst   2010                                   Bruinsma 1889 hal. 59

(9)   Van ’t Veer 1969 hal. 39                 (20) Hadi 2007                                        (29) Bossenbroek 2001 hal. 21

(10) Zentgraaff 1938 hal. 190                 (21) Zentgraaff  1938 hal. 245                        Basry 1990 hal. 190             

(11)Van ’t Veer 1969 hal.256 (22)Rep 1996 hal. 5    (30) geïnspireerd op de Talmud                                                                                                                                              (31) Vink 2007 hal. 163 

                                                                                                                                                                               

Nico Vink 

(Surabaya 1928), pengemudi kapal Java-China-Japan Lijn, drs. ekonomi (Amsterdam 1954), ekonomi lalu lintas (Bergen/Noorwegen), KLM (Asia), biro iklan Nijgh/Rotterdam dan KVH/Amsterdam, dosen HEAO (Den Haag), disertasi Macht en Kultuur in Marketing (Tilburg, 1986), dosen Fakultas Obyek Indutrial/Teknik  Universitas Delft, dosen tamu di Kopenhagen, Trondheim dan Oslo, Lódz/Polen, Tokaj/Japan, AGSIM (Phoenix USA), penulis buku  Verbannen uit Indie (1936-1945) Walburg Pers Zutphen, 2007.      

 

 

 

Share on Facebook
-
A A A
Ada 21 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Mukhsin Rizal @ Senin, 15 November 2010 | 14:47 WIB
Jika kita ingin jujur maka keberanian hati kitalah sebagai bentuk lain dalam pengungkapan sejarah Aceh tetapi dikemudian hari setelah tahun 1945, sejarah Aceh ditenggelamkan. dan kebanyakan sisi sejarah Aceh paska tahun 1945 era kemerdekaan indonesia dan saat Aceh bergabung didalamnya sebagai sebuah provisi banyak sisi sejarah Aceh yang hilang atau tidak sempat untuk di dokumentasikan, terutama periode tahun 1700-1945
handoyo @ Jumat, 17 September 2010 | 18:24 WIB
Baru ku tau kalau Aceh itu hebat tapi sayang kenapa sekarang melarat, Apa karna ulah pejabat yg keparat? yang selalu menipu sejarah dan memutarbalikkan facta. sabarlah Aceh suatu saat nanti deritamu akan berakhir dan menuju kearah kegemilangan..
arif @ Sabtu, 28 Agustus 2010 | 07:32 WIB
orang luar saja menghargai perjuangan aceh kok orang yang dijadikan penguasa di aceh saat ini ngak berhenti-hentinya memeras aceh terus
egisadri @ Minggu, 22 Agustus 2010 | 00:11 WIB
memang sedikit yang memberi perhtian, saya tertarik dengan artikel ini dan mengundang empati yang sangat dalam terhadap pejuang aceh yang banyak berkorban untuk menentang penjajahan tapi saya tak mendapatkan gambaran tentang perjuangan panjang rakyat aceh. saya baca artikel ini karena ingin mengetahui sejarahnya tapi tulisan ini lebih fokus pada kurangnya perkatian dan penghargan terhadap rakyat aceh
taufik akbar @ Rabu, 18 Agustus 2010 | 07:47 WIB
sungguh kebanggaan kepada acheh doeloe, tetapi tidak untuk pemerintah aceh sekarang
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.