| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (4)
Gerbang Kehormatan dari Taman Pemakaman Peutjoet di Kutaraja, Banda Aceh. Ini adalah pemakaman militer Tentara Kolonial Belanda (KNIL) terbesar di Aceh. Sebanyak 2.200 nama tentara Belanda/Eropa, Ambon, Menado, Jawa terbunuh dalam masa Perang Aceh. Pohon besar yang ada dalam gambar, dari sebelum 1942, sudah tak ada sejak tsunami 2004.
Jumat, 9 Juli 2010 | 02:04 WIB


Ini sebagian dari puisi kepahlawanan Aceh yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda: (21)

 

Daarom, teungkoes, weest niet nalatig.

Volbrengt de godsdienstplichten, o broeders.

O, vrienden, er is geen enkele goede daad,

Die het oorlogvoeren overtreft.

De Heilige Oorlog is u als plicht opgelegd,

Begrijpt dat goed, o broeders!

Eerst komt de geloofsbelijdenis, dan de sembahjang

(dagelijks 5x bidden-Red),

Ten derde het oorlogvoeren tegen de Hollanders.

 

Oleh sebab itu, tengku, jangan tidak peduli

Kerjakanlah kewajiban beragama, o saudaraku

Oh, kawan, tidak ada satu pun kebaikan,

Yang melebihi perjuangan dalam peperangan

Perang jihad adalah kewajibanmu

Pahamilah hal itu, o saudaraku!

Pertama membaca syahadat, kemudian shalat,

Ketiga berperang melawan Belanda.

 

 

Sementara Teuku Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda, sang istri, Cut Nya Dien, menyanyikan lagu pengantar tidur untuk bayi mereka: (22)

 

Hé, mijn kleine jongen, mijn beminde zoon, je bent een man,

Je vader, je grootvader zijn ook mannen, toon je manlijkheid,

De Christenhonden willen ons land bezetten,

            Zij willen onze godsdienst inruilen coor hun godsdienst,                               

De godsdienst van de christenhonden.

            Verdedig de rechten van ons Atjenees volk,

            Verdedig onze godsdienst, de Islamitische godsdienst.                                  

            O, mijn zoon, volg de voetsporen van je vader,

            Teuku Ibarhim Lamnga, nu hij niet thuis is.

            Denk maar niet dat je vader met z’n vrienden op stap is

            Om de komst van de Christenhonden te vieren,

            Hij is op weg om hen te verjagen uit het land Atjeh.

 

Hai, anak lelakiku, anak lelaki kesayanganku, kau seorang lelaki,

Ayahmu, kakekmu juga laki-laki, tunjukkan keperkasaanmu,

Anjing-anjing Kristen ingin menguasai negara kita,

Mereka ingin menukar agama kita dengan agama mereka,

Agama para anjing Kristen.

Belalah hak rakyat Aceh,

Belalah agama kita, agama Islam.

O, anak lelakiku, ikutilah jejak ayahmu,

Teuku Ibrahim Lamnga, yang sekarang tidak di rumah,

Jangan kira ayahmu sedang bersenang-senang dengan temannya,

Untuk merayakan kedatangan para anjing Kristen,

Beliau pergi untuk mengusir mereka dari tanah Aceh.

 

Sampai sekarang hikayat masih tetap aktif dihidupkan. Pada tahun 2007 terbit versi kartun kisah hikayat untuk anak-anak sekolah di Aceh. Sampai sekarang para ibu juga masih menyanyikan lagu pengantar tidur untuk bayi-bayi mereka.  Lagu-lagu dodaidi mengajarkan pada anak-anak Aceh agar kelak harus membantu para pejuang Aceh. Ini salah satu lagu dodaidi: (23)

 

Tiada Tuhan selain Allah

Rasul telah berpulang

Kembali ke pangkuan Allah

Beliau meninggalkan Al Qur’an untuk kita

Do idi ku doda idang

Tali layang-layang di udara telah putus

Jadilah anak yang kuat, oh Banta Seudang

Ikutlah bertempur dalam peperangan, selamatkan Aceh.

 

Apakah Perang Aceh yang di Aceh disebut sebagai Perang Penjajahan Belanda masih diingat? Mehmet Ozay membantu saya pada Januari 2010 mewawancarai lebih dari 25 murid sekolah, mahasiswa dan dosen di Banda Aceh (24). Bagaimana mereka mengenang Perang Aceh?

 

”Jakarta” tidak pernah mempunyai perhatian terhadap sejarah daerah, tetapi memusatkan perhatian hanya pada sejarah Jawa dan hanya mengakui pahlawan-pahlawan nasional yang di dalamnya termasuk Teuku Umar dan Cut Nya Dien. Bagi ”Jakarta”, Aceh merupakan hal yang peka. Generasi muda Aceh tidak diperkenankan untuk menjadi patriot Aceh.

 

Oleh sebab itu seberapa jauh pelajaran tentang Perang Penjajahan Belanda diberikan di sekolah di Aceh sangat bergantung pada pengajarnya. Sejak penandatanganan Kesepakatan Helsinki antara Aceh dan ’Jakarta’ tahun 2005 maka ketertarikan secara terbuka di Aceh terhadap Perang Penjajahan Belanda semakin meningkat. Para kakek tanpa rasa takut dapat menceritakan kembali kisah perjuangan mereka kepada cucu-cucu. Para pengajar sekolah dasar dan sekolah menengah menceritakan dalam pelajaran sejarah bagaimana rakyat Aceh dengan gagah berani melawan penjajah Belanda hanya dengan bersenjatakan bambu, rencong dan klewang.

 

 

Di sekolah menengah atas, tugas mata pelajaran Imperialisme dan Kolonialisme di Indonesia merujuk pada  perang tersebut. Di tingkat universitas di jurusan sejarah diperbandingkan visi para sejarawan Aceh dengan visi para sejarawan Belanda.  Bagaimana Jendral Belanda Köhler pada Perang Aceh Pertama tahun 1873 dibunuh oleh rakyat Aceh di bawah pohon geulumpang dekat Mesjid Raya di Kutaraja sangat populer untuk dibahas.

 

Dan bagaimana Teuku Umar mengelabui Belanda juga dengan sendirinya berada dalam urutan teratas pembahasan. Mereka selalu memandang ahli Islam asal Belanda bernama Snouck Hurgronje dengan pengetahuannya tentang Aceh sebagai pengkhianat. Sebagaimana Belanda mengenal Van Heutsz, para murid dan mahasiswa Aceh juga mengenal para pahlawan mereka.

 

Mereka telah melihat pameran foto tentang Perang Belanda di Museum Aceh dan mereka juga mengenal Hikayat Perang Sabil. Dan dengan wisata sekolah ke Makam Belanda Kerkhof di Banda Aceh, makam militer Belanda terbesar di Aceh tempat bersemayam sekitar 2.200 militer KNIL, mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Perang Belanda di Aceh bagi Belanda sendiri bukan hal yang ringan.

 

 Di makam ini mereka juga melihat nama-nama asal Ambon, Menado dan Jawa yang menjadi bukti betapa kreatifnya Belanda untuk saling mengadu domba orang Indonesia antara satu dengan lainnya. Sementara Jawa sudah beberapa ratus tahun menjadi jajahan Belanda, maka Aceh setelah 70 tahun berperang sebenarnya belum benar-benar berhasil dikuasai oleh Belanda.

 

Hal ini sampai sekarang masih diceritakan oleh orang Aceh dengan penuh kebanggaan. Pastilah bukan tanpa sebab bahwa orang Aceh masih mengingat Perang Penjajahan Belanda yang terjadi antara 70 hingga 140 tahun yang lalu di samping tragedi tsunami tahun 2004. Kursus tambahan bagi para pengajar tentang perang tersebut akan dilakukan di masa depan dan sebuah pameran foto besar-besaran pada tahun 2011 tentang perang tersebut juga sedang dalam tahap persiapan. (Bersambung)

 

 

(Penulis Nico Vink, diterjemahkan oleh Hasti Tarekat) 

Penulis adalah dosen HEAO (Den Haag),  dosen Fakultas Obyek Indutrial/Teknik  Universitas Delft, dosen tamu di Kopenhagen, Trondheim dan Oslo, Lódz/Polen, Tokaj/Japan, AGSIM (Phoenix USA) dan penulis buku  Verbannen uit Indie (1936-1945) Walburg Pers Zutphen, 2007  

 

Share on Facebook
-
Nilai 5 A A A
Ada 9 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
aneuk galong @ Jumat, 20 Agustus 2010 | 07:23 WIB
Semoga pemerintah Jakarta tidak menggunakan strategi dan taktik yang pernah dilakukan Snock Kronye sebagai cara menguasai pemikiran dan tujuan politik tertentu. Pameran Perang Aceh-Belanda membuka tabir perjuangan Aceh unt Republik..... Hut RI.... semoga PLN tetap nyala dan tabung gas 3kg tidak lagi membunuh rakyatnya.....
hendry @ Selasa, 3 Agustus 2010 | 17:37 WIB
Pada zaman itu agama merupakan alat propaganda untuk menyatukan. Yang keterlaluan adalah orang2 masih melakukannya di zaman sekarang.
Taufik Irmansyah @ Sabtu, 24 Juli 2010 | 17:21 WIB
@ Arya - puisi karya Cut Byak Dien tentang kebencian thd Belanda memang nuansa saat itu. Setelah Tsunami dgn begitu banyak bantuan dr Barat. Pandangan thd Barat sdh berubah termasuk kepada agamanya. Tapi bagi yg diam diam menjalankan missi dgn kedok bantuan tsunami mereka tidak suka. Saya pernah 4 thn disana (2005-2006) sebagai Humanitarian Worker. - Lagu Dodaidi - lagu ninak bobo has Aceh lagu religius heroisme, betul lagu 2x semacam ini yg masih populer hingga skr di Aceh.
Sepeda baru @ Sabtu, 17 Juli 2010 | 09:56 WIB
makanya kemarin nggak dukung belnda di world cup..mantan penjajah kok di dukung
isfahani @ Selasa, 13 Juli 2010 | 12:18 WIB
@ Arya : kolonialisme model lama memang berlandaskan pada prinsip 3G (Gold, Gospel
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.