KOMPAS.com -- Dalam rangka HUT ke-483 Kota Jakarta, Museum Sejarah Jakarta (MSJ) kembali menggelar Batavia Art Festival (BAF). Kali ini BAF akan digelar pada 19-20 Juni. Sepanjang dua hari itu berbagai acara serta stan kerajinan dan 13 stan museum bakal mejeng. Dari 13 museum, ada satu museum yang baru ikut pada BAF kali ini, yaitu Museum Polri. Jadi bagi warga yang penasaran seperti apa Museum Polri sebenarnya, apa isi museum itu, bisa cari tahu di acara BAF. Bukan hanya Museum Polri tapi juga tentang museum di DKI, termasuk tentang Taman Arkeologi Pulau Onrust.
Menurut Rafael Nadapdap, Kepala Unit Pelaksana (UPT) MSJ dan Museum Taman Prasasti, BAF digelar dua hari tapi tidak sampai malam hari. “Acara mulai sekitar pukul 09.00 sampai sekitar jam 17.00. Besoknya juga begitu. Kalau pembukaan BAF hari Sabtu jam 10.00. Silakan saja warga datang menyaksikan berbagai atraksi dan pameran di Taman Fatahillah,” ujarnya kepada Warta Kota akhir pekan lalu, usai rapat BAF bersama seluruh jajaran yang akan terlibat dalam penyelenggaraan BAF 2010.
Seperti biasa, keriaan tersebut akan juga diramaikan dengan pertunjukan band untuk menarik warga, kemudian peragaan busana militer di zaman kolonial, dan paduan suara. Itu hanya sedikit dari acara BAF. “Kita juga ada tiga kali nonton film tempo dulu. Jadi Sabtu ada, Minggu ada. Dimulai pukul 11.00,” lanjutnya.
Ada 12 stan pasar seni, 16 stan pasar kerajinan, 16 stan pameran komunitas, 16 stan jajanan, 13 stan museum. Belum lagi kampung seni yang akan berisi lukisan wayang, kaligrafi, lukisan foto, seni siluet dan penampilan dari Federasi Teater Indonesia. “Yang mau cari atau beli pernak pernik tentang Old Batavia, tenun lurik Jogja, dan kerajinan tangan lainnya juga ada di BAF,” kata Rafael.
Selain acara BAF, di hari Sabtu 20 Juni, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) juga mengajak pencinta sejarah mengitari gudang rempah-rempah mulai pk 07.30. Ketua KJB Kartum Setiawan mengatakan, acara kali ini memang sengaja berbarengan dengan BAF untuk meramaikan kedua acara. “Jadi setelah jalan-jalan, makan, peserta Jelajah Budaya bisa lanjut ke BAF,” begitu katanya.
Dengan biaya Rp 60.000/orang, peserta akan dibawa menuju gudang rempah-rempah melalui Museum Bank Mandiri (MBM), masuk ke Pintu besar Utara, melintas Taman Fatahillah, menuju Jalan Kunir, kemudian menatap Geo Wehry yaitu bangunan dari awal abad 20 bikinan Ghijsels (arsitek Stasiun Jakarta Kota) yang kini dikelilingi seng dan tak jelas digunakan untuk apa, dilanjutkan kea rag tembok Kota Batavia sisi timur. “Terus kita masuk ke gedung rempah-rempah, gudang gandum dari zaman VOC. Ini adanya di belakang jalan tol, di Jalan Tongkol,” imbuhnya.
Dari situ peserta digiring ke Pelabuhan Sunda Kelapa kemudian ke Menarah Syahbandar dan Museum Bahari. Selain itu juga melihat gudang rempah di belakang Museum Bahari. “Ini gudang yang ada di sisi barat. Dari sana kita kembali ke MBM untuk makan siang, kemudian lanjut ke BAF,” demikian penjelasan Kartum.
Sementara itu di Jakarta Pusat, tepatnya di Taman pemakaman Petamburan, ada satu komunitas yang sejak Mei lalu giat membenahi museoluem OG Khouw yang juga akan menggelar acara. Secara garis besar acara itu tak lain untuk sosialisasi tentang “Friends of the OG Khouw Mausoleum”. Acara digelar mulai pk 09.00 hingga sore hari. Menurut Amelia Devina, penggerak komunitas OG Khouw ini, acara tersebut selain berisi wisata sejarah tentang OG Khouw dan pemakaman tua di situ, juga sebagai upaya penggalangan dana bagi pembenahan Musoleum OG Khouw.