KOMPAS.com — Pernah dengar nama Kusni Kasdut? Atau barangkali malah ada pembaca yang mengalami masa heboh Kusni Kasdut yang mencuri koleksi, arca emas/permata di Museum Nasional sekit..."> Wisata Kota Tua - Warisan.kusni.kasdut.di.museum.katedral.
| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Warisan Kusni Kasdut di Museum Katedral
Lukisan Kusni Kasdut berupa bangunan Gereja Katedral. Lukisan terbuat dari batang pohon pisang.
Selasa, 25 Mei 2010 | 01:15 WIB

KOMPAS.com — Pernah dengar nama Kusni Kasdut? Atau barangkali malah ada pembaca yang mengalami masa heboh Kusni Kasdut yang mencuri koleksi, arca emas/permata di Museum Nasional sekitar setengah abad silam? Kusni Kasdut, atau kemudian menjadi Ignatius Kusni Kasdut, masuk dalam jajaran "Robin Hood" Indonesia periode setelah kemerdekaan, lebih tepatnya pada masa awal Orde Baru.

Kali ini saya belum akan membahas kisah penjahat legendaris itu lebih dalam. Namun, jika ada yang penasaran melihat hasil karya seni Kusni Kasdut berupa lukisan Gereja Katedral dari batang pohon pisang (gedebok pisang), bisa mampir ke Museum Katedral di Gereja Katedral Jakarta.

Di balkon Gereja Katedral itulah lukisan tersebut berada. Lukisan itu dipamerkan bersama benda-benda koleksi gereja lainnya. Di bawah lukisan Kusni Kasdut itu diberi keterangan, lukisan dari batang pohon pisang tersebut dibikin Kusni Kasdut selama mendekam di penjara menjelang dieksekusi. Ia dibaptis di penjara Cipinang pada 19 Desember 1968 dan dieksekusi beberapa tahun kemudian.

Lukisan Kusni itu tentu menjadikan nuansa museum tersebut berbeda. Pasalnya, isi museum itu kebanyakan adalah alat-alat ibadat, patung, buku, kasula (busana khas imam), serta benda-benda lain, seperti vandel lambang gereja, alat mati raga, kaleng misi sebagai tempat menampung uang logam bagi karya misi pater-pater Yesuit di Indonesia.

Minggu, 16 Mei 2010, Museum Katedral menggelar "Open House Museum Katedral". Siapa pun yang ingin melihat, mengambil gambar gereja dan ornamennya, baik dari luar maupun dalam, hingga ke balkon tempat museum berada, dipersilakan. Gratis. Ada pemandu pula.

Open house itu digelar sebulan sekali. Namun, jika ingin melihat museum di luar acara open house, bisa datang hari Senin, Rabu, dan Jumat tak lebih dari pukul 12.00. "Museum ini sempat ditutup selama 15 bulan karena gereja dipugar dan baru dibuka kembali pada 21 Maret 2010," kata Humas Gereja Katedral Graece Tanus.

Museum Katedral diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris yang pernah menjadi pastor kepala di Katedral. Kurris-lah yang kemudian menempatkan benda-benda bersejarah koleksi gereja di balkon. Itu dimulai pada 1988 bersamaan dengan pemugaran gereja.

Kemudian museum ini diresmikan pada 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja SJ yang kala itu menjabat sebagai Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia sekaligus Uskup Agung Semarang. Dalam buku Perjalanan Iman Gereja Katedral disebutkan pula, dalam peresmian itu hadir Kepala Dinas Pariwisata DKI, kala itu, Bambang Sungkono.

Selain koleksi lukisan batang pohon pisang karya Kusni Kasdut, museum ini juga memamerkan Patung Bunda Maria Berkonde yang diapit sepasang perempuan dan pria Jawa dalam posisi sedang menyembah. Ketiga patung itu dibikin oleh Pater Reksaatmadja SJ sekitar tahun 1930 saat ia belajar Ilmu Ketuhanan di Belanda.

Mitra (topi ibadat) dan Tongkat Gembala Paus Paulus VI yang diberikan kepada umat di Indonesia dalam kunjungannya tahun 1970 juga ikut dipamerkan. Demikian pula dengan Piala, Patena, dan Kasula Paus Yohanes Paulus II yang diberikan kepada umat Katolik di Indonesia saat ia berkunjung tahun 1989.

Museum sederhana itu juga memamerkan buku ibadat yang pernah dipakai sehingga perkembangan ibadat gereja Katolik juga bisa diikuti. Foto proses pembangunan gereja ini juga dipamerkan. Gereja yang sekarang ini dibangun pada 1891 dan diresmikan pada 1901.

Arsitektur gereja itu juga merupakan museum tersendiri. Arsitektur gereja bergaya neogotik ini dibangun dengan denah berbentuk salib. Konstruksi bangunan dikerjakan oleh tukang batu dari Kwongfu, China.

Pada kuda-kuda kayu jati tertulis aksara Tionghoa. Sementara itu, di salah satu sudut bangunan gereja bisa ditemukan batu penjuru bertuliskan 1899 yang menjadi tanda untuk membentuk Gereja Kristus.

Pada acara open house itu, pihak gereja juga menceritakan Goa Maria yang ada di halaman gereja, lebih mirip dengan Goa Maria di Lourdes, Perancis. Tak ketinggalan, penjelasan tentang Menara Benteng Daud dan Menara Gading yang merupakan perlambang dari Bunda Maria.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 4.38 A A A
Ada 11 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
kurisuma @ Rabu, 8 Desember 2010 | 10:29 WIB
wah, pernah ketika museum masih dalam masa pemugaran saya menyelinap naik ke balkon karena penasaran dan kebetulan pintu tangga tidak dikunci. saya bisa melihat lihat cukup banyak koleksi seperti orgel kuno, dll. setelah cukup lama melihat-lihat ternyata pintu sudah dikunci dan saya terkunci di dalam, untungnya ada bapak yang sedang memperbaiki anyaman kursi dibawah yang melihat saya di atas balkon. sungguh pengalaman yang menegangkan sekaligus seru!
citra @ Minggu, 4 Juli 2010 | 21:00 WIB
Kusni Kasdut memang Robin Hood Indonesia, dia tidak pernah tertangkap dan waktu tertangkap bisa hilang di penjara, Pertobatannya karena adanya panggilan hati nuraninya dan ilmunya sejak saat itu dia hilangkan. Saya pernah wawancarai dia, Polisi dibuat kalang kabut atas tingkahnya, Dia membunuh pada waktu terjepit karena korbannya berteriak. Uang hasil rampokan dia bagikan ke rakyat jelata dan hidupnya tetap sederhana, tidak kaya sampai ajal menjemputnya. Dia mantan pejuang 45 dan Tetap berjuang.
santi @ Rabu, 26 Mei 2010 | 22:40 WIB
setujuuu
Swanggy @ Rabu, 26 Mei 2010 | 11:59 WIB
Poficiat Katedral...!
abbas @ Selasa, 25 Mei 2010 | 23:17 WIB
@aneh, udah tau sejarahnya blom bro? baca dulu napa... dia emang perampok dan pembunuh tapi argumen lo yg bilang hasilnya dia makan sendiri tu salah.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.