| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Nongkrong di Kota Tua, Nikmati Makanan Legendaris di Kafe
Es Spageti yang menggoda ini bisa dinikmati di Gazebo Cafe.
Rabu, 19 Mei 2010 | 00:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nongkrong di kawasan Kota Tua, Jakarta, bisa menjadi hal yang mengasyikkan. Pengunjung tidak saja bisa menikmati museum dan bangunan-bangunan tua, tetapi juga bisa bersantai di kafe sambil menikmati makanan dan minuman yang cukup legendaris di Jakarta.

Siang menjelang sore, suhu udara di kawasan Kota Tua terasa tidak bersahabat. Embusan angin tidak terasa. Namun, hiruk pikuk di seputaran Museum Fatahillah seolah tidak peduli dengan hal itu. Jika tidak kuat dengan panasnya matahari, coba saja masuk ke kawasan Gazebo Cafe. Meski bentuknya kafe, makanan yang dijual merupakan makanan tradisional dan kaki lima yang sudah melegenda.

Tempatnya agak tersembunyi. Kalau mata tidak awas, bisa terlewat kafe itu. Namun, sebenarnya mudah juga menemukan kafe itu. Kafe itu berada di seberang Museum Fatahillah, tetapi tertutup bangunan dari Kafe Batavia.

Memasuki kompleks Gazebo Cafe, pengunjung dibuat terpana. Meski tempatnya agak tersembunyi, lahan di dalamnya cukup luas dan suasana kafe terbuka langsung terlihat. Memang belum terlalu ramai dan sedikit agak gersang, kurang ada pepohonan dan tanaman. Namun dengan keberadaan kolam di sisi kafe, membuat suasana jadi segar.

Kafe itu ada dua lantai, tetapi yang berfungsi sempurna baru lantai dasar. Pengunjung bisa memilih tempat di mana saja karena dari situ makanan apa pun bisa dipesan tanpa harus mendatangi kiosnya. Meski ingin memadukan antara makanan kafe dan makanan tradisional kaki lima, sang pemilik kafe, Marshall Pribadi, juga tidak mau sembarangan memasukkan makanan kali lima ke sana.

"Kami pilih betul, mana yang bisa masuk dan kami terima. Saya maunya ya makanan yang tradisional atau legendaris, seperti ragusa dan dudung roxi. Jadi sesuai dengan kawasan. Soal harga masih bisa terjangkau," ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia ini.

Marshall menambahkan, keseluruhannya ada 10 penyewa yang menempati Gazebo Cafe, antara lain  Ragusa Es Krim & Restoran, Sop Kaki Kambing Dudung Roxi, Sate Padang Murni Cikini, Dapur Mama Wing Sriwing, Mie Kepang, dan Pizza Gendeng. Selain itu, ada juga  Piring Panas, Es Campur Sinar Garut, Dimsum Menteng, Gado-gado Ngawi, Soto Ngawi, Angkring Margonda Depok, dan Bandar Kopi.

Bagi penggemar kopi yang belum pernah merasakan kopi lokal dari sejumlah daerah, di Bandar Kopi bisa dicicipi kopi aceh, kopi wamena, kopi flores, kopi mandailing, kopi jawa, kopi toraja, kopi lintong, dan masih banyak lagi. Harganya Rp 21.000-Rp 23.000.

Di sini pengunjung juga bisa mencicipi Es Sinar Garut dari Jalan Patekoan yang sekarang menjadi Jalan Perniagaan, Jakarta Barat. Yang paling favorit di tempat ini adalah es campur dan es alpukat. Keistimewaan dari es alpukatnya adalah dibuat dari buah alpukat yang dikerok daging buahnya secara dadakan. Begitu juga dengan es campurnya, semua bahan-bahannya masih segar sehingga menambah nikmat cita rasanya.

Sate Padang Murni juga patut dicoba. Pasalnya sate ini pernah mendapat juara pertama sebagai sate padang terenak dalam acara silaturahim keluarga Padang Pariaman tahun 2006 di Jakarta. Ada empat pilihan sate, yakni daging, lidah, jantung, dan usus sapi. Bumbunya yang kental sangat terasa karena dibuat dari 27 macam bumbu. Seporsinya Rp 18.000-Rp 20.000.

Mirip "foodcourt"
Bisa dibilang tempat ini mirip foodcourt di pusat perbelanjaan. Namun, layanannya seperti di kafe. Pihak penyelenggara menyediakan pelayan (waiter) dan tempat untuk cuci piring bagi para penyewa. Lokasi kafe yang terletak di kawasan Kota Tua, tepatnya di Jalan Kunir, Tamansari, Jakarta Barat, dinilai menjadi pilihan tepat. Hal itu sesuai dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mencanangkan Kota Tua sebagai world class tourism destination. Menurut Marshall, pihaknya sengaja memilih kawasan Kota Tua karena sebagai wujud dukungannya atas rencana Pemprov DKI.

Selain itu, Gazebo Cafe juga menyediakan fasilitas seperti live music, dance floor, biliar, foto studio, toko baju, salon, souvenir shop, dan travel agent. Pernik-pernik yang dijual di souvenir shop lebih banyak mengacu pada Kota Jakarta, seperti ondel-ondel dan Monas.

"Pokoknya, harga yang kami tawarkan dijamin tidak merobek kocek. Istilah kata, rasa bintang lima, harga kaki lima, serta makanan kami dijamin halal," ujarnya. Bagi pengunjung yang ingin rileks sehabis berjalan-jalan di Kota Tua, tempat ini juga akan dilengkapi dengan pijat refleksi. Nantinya di tempat itu juga akan sering diadakan nonton bareng sepak bola.

Sebenarnya, pengadaan layar proyektor yang cukup besar itu tak hanya digunakan untuk nonton bola, tetapi juga nonton film, misalnya nonton film kuno, film dokumenter tentang Batavia, atau yang berbau sejarah lainnya.

Sementara pada lantai atas masih ada tempat yang kosong. Baru satu tempat di pojokan yang diisi Ragusa. Uniknya, beberapa bagian tembok dilukis dengan suasana seperti tempo dulu. Marshall menuturkan, ke depan, tempat tersebut akan diisi dengan galeri seni yang akan diisi para seniman muda yang menjual aneka ragam barang-barang seni.


Warta Kota Dian Anditya M
Share on Facebook
-
Nilai 4.1 A A A
Ada 10 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
aswin @ Jumat, 1 April 2011 | 16:42 WIB
makanannya biasa aja, bahkan ga higienis, pernah kemakan rambut ga dikenal pas lg menikmati jus alpukat zzzzz
louis @ Kamis, 18 November 2010 | 12:18 WIB
masih jauh dari yang di gembar gemborkan ...
tia @ Senin, 31 Mei 2010 | 15:37 WIB
ah, kmrn 29 mei ksna dan kecewa berat...bangunan belum jadi, makanan biasa aja..
novianus damping @ Senin, 31 Mei 2010 | 06:51 WIB
pertaruhan bisnis idealis yg penuh resiko, dukung terus
kelik @ Sabtu, 22 Mei 2010 | 16:05 WIB
wah ciamik tenan.... penggagasnya perlu dapat apresasi... mudah-mudahan diikuti kreator-kreator lainnya buat hidupkan kawasan Kota
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.