KOMPAS.com -- Meski suhu dingin 12 derajat Celcius di penghujung musim sakura menusuk tulang, minat wisatawan mengunjungi Kuil Meiji Jingu, di akhir April lalu tidak surut. Kuil di pinggiran distrik Harajuku, Tokyo, Jepang, tersebut tetap ramai siang itu.
Makin mendekati petang, kuil yang ditutupi rimbunnya pepohonan itu kian ramai. Rupanya warga Jepang masih menyimpan keyakinan bahwa kehadiran mereka di kuil tersebut akan mendapatkan berkah melimpah sesuai keinginan yang mereka lontarkan dalam bentuk doa.
Bapak Nikaido (50), teman yang memandu dalam perjalanan tersebut, mengungkapkan tentang begitu kuatnya kepercayaan orang Jepang. Bahkan, keyakinan yang kental itu nyaris tak pernah luntur meski sejak abad 18 dan 19 Jepang menganut modernisasi dalam banyak hal, terutama teknologi.
Menjelang petang itu, kuil yang dibangun untuk menghormati kekuasaan kepemimpinan Kaisar Meiji antara abad 15 dan 16 ini, mulai dipadati wisatawan. Pengunjung antre untuk memanjatkan doa di kuil utama dan membuat permohonan di atas sejenis kayu jati muda.
Saat masuk area kuil utama, yang harus diingat adalah menjaga sikap dan keseriusan. Karena, Kaisar Meiji meyakini, ada Tuhan Sang Maha Penguasa di kuil utama itu. Bahkan, jika sudah sampai di dalam, pengunjung tak diizinkan memotret. Batas suci sudah ada sejak di ambang pintu kuil utama.
"Di ujung kuil itulah diyakini Tuhan Sang Maha Penguasa ada duduk di sana. Dan, sampai saat ini yang mendapatkan izin untuk bisa duduk bersimpuh kaki di ujung bagian dalam kuil hanya sang kaisar. Bahkan, yang masih satu dinasti pun, jika bukan kaisar hanya duduk di teras luar. Nanti saat di dalam untuk prosesi doa permohonan dilarang untuk mengambil gambar. Hanya sampai di sini diperbolehkan mengambil gambar," kata Nikaido, seraya menunjuk batas pintu besar di ujung luar kuil utama.
Bangunan kuil yang berseberangan dengan pusat fesyen Harajuku, di bagian barat Tokyo ini, masih menyimpan semua tradisi masa kepemimpinan kaisar. Maka, begitu menginjakkan kaki di gerbang utama kuil, pengunjung tidak akan menemukan sesuatu apa pun yang jenisnya modern.
Ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 700 m hingga ke kuil utama, pengunjung akan menapaki jalan yang masih berbatu keriril dan pasir.
Menurut Nikaido, kondisi areal kuil seluas sekitar 150 hektar tersebut sudah dipertahankan sejak 600 tahun. "Ini tidak pernah diubah sedikit pun. Tidak ada satu batang pohon pun yang bisa ditebang dengan alasan apa pun, karena kami begitu menghormati apa yang ada di dalam lokasi ini. Mereka yang berbusana tidak layak pasti enggan masuk ke kawasan ini. Karena, mereka percaya bahwa doa permohonan akan lebih dikabulkan jika pengunjung yang datang masih bersedia mengenakan kimono, baik laki-laki maupun perempuan," jelas pria yang hampir 30 tahun tinggal di Indonesia ini.
Lempar koin
Siapa pun yang ingin berdoa dan melontarkan permohonan akan berkah tidak ada larangan. Tidak ada kasta, agama, warna kulit, bahasa, maupun ras. Semua bisa masuk, karena diyakini semua orang sama di hadapan Tuhan Maha Penguasa. Namun, jika ingin dan yakin permohonan tersebut bakal terkabul sepenuhnya, maka ada ritual prosesi yang harus dilakukan. Selain harus menempuh dengan jalan kaki sejauh 700 m dan melewati tiga gerbang utama berbahan batang kayu jati Jepang berusia 700 tahun setinggi 20 m, ada prosesi penyucian dengan membasuh beberapa bagian tubuh dengan air suci yang tersedia pada kolam di gerbang terakhir dan melempar koin sebelum melontarkan permohonan.
Penyucian diri dengan membasuh sebagian bagian tubuh menggunakan air di kolam tersebut adalah bagian terpenting layaknya penyucian ala Shinto (kelompok orang suci yang masih tergabung dalam dinasti kaisar). Ada sejumlah urutan, mulai dari membasuh bagian kiri kaki dan tangan, selanjutnya sebaliknya, dan dilanjutkan dengan wajah dan meminum air suci itu. Semua harus menggunakan sendok bambu yang tersedia di kolam tersebut.
Sampai di ambang pintu terakhir kuil utama, segera siapkan koin berapa pun nilainya. Sesuai keyakinan yang selama ini dianut, koin yang dilemparkan itu sebagai pengganti sesaji sebagai persembahan makanan untuk para dewa-dewa dan Tuhan. Setelah itu, tinggal tepukkan telapak tangan sebanyak tiga kali, tundukan kepala, dan buatlah permohonan.
"Itu sejumlah ritual yang ada dan itu juga yang dilakukan kaisar saat datang ke kuil ini antara 1-2 dua kali dalam setahun. Jika masih ingin ada keinginan atau permohonan, maka tulislah di potongan papan kayu. Cukup dengan biaya 500 yen atau sekitar Rp 480.000, maka silakan menulis di kayu itu. dengan bahasa apa saja tidak masalah. Jika ingin dituliskan ke bahasa Jepang, bisa minta tolong ke penjaga di bagian pembelian papan kayu. Dan, gantung saja di tempat di sisi luar kuil utama," tutur Nikaido, yang berprofesi sebagai pengacara dan tenaga pekerja lepas di konsulat jenderal.
Satu hal yang unik, di ujung gerbang masuk areal kuil terdapat tumpukan minuman anggur dan sake (minuman khas Jepang) yang diserahkan oleh para pengusaha minuman anggur di Perancis dan sake di Jepang, yang diyakini sebagai sesaji dan persembahan bagi kaisar.
Mahal, ritual pernikahan
Satu hal lain yang jadi keyakinan warga Jepang untuk datang ke Kuil Meiji Jingu ini adalah berkah ketika memulai sebuah keluarga baru alias menikah. Bagi mereka yang yakin pernikahannya akan langgeng, romantis, penuh rezeki, dan dikaruniai anak-anak yang sehat dan baik, maka ritual pernikahan layak dilakukan di kuil tersebut.
Keike Katzumi (18), seorang mahasiswi seni Jepang mengungkapkan bahwa keyakinan berkah pernikahan itu masih kuat selama ratusan tahun lamanya. Dan, bagi mereka yang menginginkan sebuah prosesi ritual pernikahan yang lengkap, maka harus datang melakukan ritual keliling dan doa.
Hanya saja, untuk melaksanakan ritual ini, orang harus merogoh kocek dalam-dalam. Karena, untuk bisa masuk dan melakukan ritual ini ada biaya sekaligus yang bakal digunakan untuk sesaji di mana nilainya tidak kurang dari Rp 50 juta.
"Ini memang mahal. Entah dari mana asalnya muncul jumlah biaya yang sebesar itu. Karena itu, pasangan pengantin yang melakukan ritual pernikahan di kuil ini hanya yang secara ekonomi sangat cukup atau bisa dikatakan orang kaya. Namun, khusus untuk ritual ini pakaian adat yang sangat wajib diakukan adalah kimono yang semuanya putih tanpa hiasan bagi mempelai wanita sebagai bukti tanda kesucian dan keperawanan. Maka, doa pengantin ini diyakini bakal segera terkabul," kata Keike.