KOMPAS.com -- Pada 1 Mei nanti, tepat 83 tahun seorang kaya warga Tionghoa di Batavia, dimakamkan dengan kuburan super megah dan mewah di Petamburan. Ia tentu tak kenal Vladimir Lenin, atau..."> Wisata Kota Tua - Bersih-bersih.di.musoleum.og.khouw.
| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Bersih-bersih di Musoleum OG Khouw
Inilah musoleum salah satu orang Tionghoa kaya di Batavia, OG Khouw, yang ada di TPU Petamburan. Hari Minggu tanggal 2 Mei nanti sekelompok relawan akan membersihkan, juga mengajak warga peduli, untuk mengembalikan keindahan musoleum itu.
Rabu, 28 April 2010 | 13:39 WIB

KOMPAS.com -- Pada 1 Mei nanti, tepat 83 tahun seorang kaya warga Tionghoa di Batavia, dimakamkan dengan kuburan super megah dan mewah di Petamburan. Ia tentu tak kenal Vladimir Lenin, atau juga Shah Jahan – Kaisar Mughal yang mempersembahkan musoleum bagi sang istri Mumtaz Mahal. Ia adalah Khouw Oen Giok atau lebih dikenal sebagai OG Khouw.

Tak banyak yang ingat, bahkan boleh jadi tak banyak yang tahu ada bangunan indah di Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan. Bangunan besar tempat bernaung jasad atau abu itu sudah berada di TPU Petamburan sejak 1927. Di situ beristirahat salah satu orang kaya di Batavia, Khouw Oen Giok. Mendengar nama Khouw tentu benak kita menangkap nama Khouw lain yang juga beken sebagai Majoor – Mayor Tionghoa di zaman kolonial – Khouw Kim An si pemilik gedung Candra Naya yang hingga kini masih saja terlunta. Lantas siapa sebenarnya Khouw Oen Giok?

Pengamat sejarah dan budaya Tionghoa Peranakan, David Kwa, kepada Warta Kota menjelaskan, riwayat dan sepak terjang Khouw Oen Giok (Khouw OG) tak terlalu benderang. Yang pasti, “Dia itu salah satu orang kaya di Batavia, punya bank. Rumahnya di seberang Lindeteves,” kata David. Di sepanjang Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, memang pernah membentang rumah milik keluarga Khouw, termasuk Khouw Kim An. Rumah itu kemudian berubah ada yang menjadi Kedutaan Besar RRC, sudah dihancurkan tahun 1965; kemudian menjadi SMAN 2 Jakarta.

Kemudian semua bagian makin menghilang termasuk banyak bagian dari Candra Naya yang masih saja dikangkangi bangunan apartemen. “Oen Giok Khouw sepupu Khouw Kin An,” lanjut David. Dalam perjalanan sistem kolonial, Oen Giok Khouw sebagai bagian dari bangsa Timur Asing kemudian meminta persamaan hak dengan bangsa Eropa. Maka namanya lebih sering disebut sebagai OG Khouw. Padahal sebagai warga Tionghoa, menurut David, nama yang benar adalah Khouw Oen Giok.

 “Itu kebanyakan diminta oleh orang-orang Tionghoa kaya, supaya mereka bisa mendapat hak sama dengan orang Eropa. Naik kereta api kelas 1, boleh tinggal di hotel kelas 1. Diskriminasi yang jelek dari pemerintah kolonial,” tandas David lagi.  

Dengan mengikut segala kebiasaan dan budaya bangsa Eropa, maka tak aneh jika kemudian Khouw OG membuat mausoleum (musoleum) layaknya orang Eropa. Seluruh kehidupan hingga kematiannya mengikut gaya Eropa, termasuk kuburannya. Namun siapa sebenarnya Khouw OG memang perlu digali kembali sejarah dan berbagai hubungan dengan Khouw Kim An.

Dalam buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, Sam Setyautama, menyebutkan, Khouw OG lahir pada 13 Maret 1874 dan wafat di Ragaz, Swiss, pada 1 Mei 1927. Meski meninggal di Swiss, Khouw OG dimakamkan di Jakarta. Isterinya, Lim Sha Nio, menyusul pada 9 Juni 1957 dimakamkan bersama Khouw di  bawah tanah Petamburan, Jakarta Pusat.

Buku itu menjelaskan, Khouw adalah tuan tanah dari Tambun yang memiliki perkebunan tebu luas. Ia mempunyai dua orang saudara yaitu Khouw Oen Kiam dan Khouw Oen Hoei. Mereka berdua tinggal di Mangga Besar, Jakarta Barat. Selain kebun tebu, Khouw Oen Giok juga mempunyai bank, Than Kie Bank di Jalan Pintu Besi. Ia juga tercatat menjadi hospitaalfonds Jang Seng Ie – kini menjadi RS Husada di Mangga Besar – sewaktu rumah sakit yang berawal dari poliklinik itu akan dibangun.

 Disebutkan pula dalam buku itu bahwa  Khouw Oen Kiam, sang adik, adalah pemilik bekas gedung Kedutaan Besar RRC di dekat Glodok. Khouw Oen Giok juga mempunyai rumah di Jalan Pinangsia yang dijadikan sekolah Hollandsche Chineesche School (HCS) pertama di Batavia pada 1908. Sayang, meski kaya raya, ia tak mempunyai keturunan.

Musoleumnya dibangun di Jati Petamburan dan terbuat dari marmer hitam Italia. Biaya membuat kuburan mewah ini 200.000 f (gulden). Pemborongnya berkantor di Krekot, Jakarta Pusat, menggunakan nama “Ai Marmi Italiani”.  

Dalam rangka memperingati 83 tahun Khouw OG sekaligus Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, sekelompok pencinta sejarah dan pusaka Jakarta mengajak mereka yang peduli untuk menyelamatkan Mausoleum OG Khouw yang sudah tak terawat. “Love Our Heritage: Save The OG Khouw Mausoleum”.

Mereka sudah bergerak mengumpulkan dana dari mereka yang peduli. Menurut salah satu penggerak Save The OG Khouw Mausoleum, Graece Tanus, dana yang diperlukan untuk membenahi makam itu setidaknya Rp 18 juta tapi baru terkumpul sekitar Rp 3 juta.  Menurutnya, gerakan ini dimulai dari kebiasaan bersama antaranggota Komunitas Jelajah Budaya (KJB), “Setelah kalan-jalan ke Marunda sekitar Oktober tahun lalu, Amelia, salah satu peserta KJB juga, usul, gimana kalo bersihin makam OG Khouw. Tadinya mau kita gelar pas Valentine tapi baru bisa tanggal 2 Mei ini,” tutur Graece.

Ferry Guntoro, penggerak lainnya, menyatakan, bagian bunker tempat menyimpan jenazah Khouw dan istrinya tidak dilengkapi lampu, kotor, dan sering tergenang air. “Malah sering dipakai untuk tempat orang melakukan hal yang enggak baiklah. Padahal itu mausoleum kan bias dibilang bersejarah, kuburan termahal. Marmernya langsung dari Italia,” tegas Ferry. Memang, dalam buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia disebutkan, Koran Sin Po pun menyatakan, mausoleum tersebut mengalahkan makam Rockefeller, miliarder Amerika.    

Secara terpisah, Candrian Attahiyyat, mantan kepala sub dinas pengkajian dan pengembangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI yang kini Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, mengatakan, mausoleum itu belum ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB). “Kami ingin mengusulkan supaya mausoleum itu jadi BCB,” kata Grace yang diamini oleh Ferry.

 


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 4.75 A A A
Ada 8 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Rudy @ Rabu, 16 Juni 2010 | 13:04 WIB
Tdk usah mengharapkan pemerintah untuk perehatian/memelihara bangunan/makam kuno /bersejarah. Jgnkan makam/musoleum,banyak gedung bersejarah yg sdh dirobohkan/dibiarkan merana.Kasihan ank cucu kita tdk bisa lagi mengetahui asal usul /sejarah bangsa.
Tan Sri Dato' Lee @ Sabtu, 15 Mei 2010 | 13:35 WIB
Andai dunia tanpa pembedaan dan diskriminasi... oo indahnya.
Sapartono P @ Kamis, 13 Mei 2010 | 21:24 WIB
Sepertinya pemerintah kurang tertarik atau menganggap penting untuk menjadikan bangunan makam sebagai cagar budaya. Padahal salah satu metode penelusuran sejarah adalah dengan menggunakan bukti keberadaan makam kuno. Selain itu, penetapan status cagar budaya pada suatu makam dapat mencegah penyerobotan lahan, seperti kasus makam Mbah Priok yg berakibat terjadinya kerusuhan.
Nugraha @ Selasa, 11 Mei 2010 | 10:32 WIB
Saya rasa apa yg di katakan CJ Huang benar, banyak anak muda kita sekarang tidak mengenal sejarah bangsa, bahkan cenderung tidak menghargai benda2 bersejarah untuk Ling Ling, maksud anda apa sih, kami semua merasa sebagai Rakyat Indonesia, dan yg di tulis oleh CJ Huang "Indon" itu saya pikir adalah indonesia koq, jgn jadi provokator ah,
Hermith JJ Mantiri @ Rabu, 5 Mei 2010 | 00:19 WIB
kami mengundang rekan2 pecinta kota tua betawi untuk datang ke salah satu makam tua dan terkenal dalam sejarah kolonial belanda. Dia adalah anggota keluarga dari Oey Tamba Sia. Dia saat ini ada di San Diego Hills, Karawang
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.