| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Stasiun Batavia Selatan Genap 80 Tahun
Bagian dalam Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Stasiun ini sekarang genap berusia 80 tahun.
Jumat, 23 Oktober 2009 | 10:49 WIB

IR FRANS Johan Louwrens (FJL) Ghijsels sudah lama tak ada. Namun kita masih bisa menelusuri karya-karya sang arsitek. Karya-karya Ghijsels masih tegak berdiri di tanah bekas Batavia. Boleh jadi setiap hari kita berkantor di sana, atau  paling tidak melintasi gedung-gedung dari awal abad 20 itu. Di Kalibesar, anak Belanda kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, itu menorehkan karya dalam bentuk Kantor John Peet & Co yang sekarang jadi PT Toshiba dan gedung Kantor Maintz & Co yang sekarang PT Samudera Indonesia.

Di Jalan Kunir, di tempat yang kini tertutup pagar seng dan sepertinya dibiarkan tak terpakai, bisa Anda intip ada bangunan megah di dalamnya. Itu adalah bekas gedung Geo Wehry & Co. Bangunan lain yang mungkin lebih populer adalah RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat, yang dulunya adalah Rumah Sakit KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Gedung KPM lain ada di Jalan Medan Merdeka Selatan, kini menjadi Kantor Departemen Perhubungan Laut, Gereja Katolik Meester Cornelis (Gereja Katolik St Yoseph di Matraman, Jakarta Timur), dan Gereja Protestan Paulus di Menteng.

Ghijsels memang tak bekerja sendirian. Ia tergabung dalam Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA) -  sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916. Tiga punggawa biro ini, selain Ghijsels, Ir Hein von Essen, dan Ir F Stlitz. Sebelum biro ini berdiri, Ghijsels dan Essen bekerja sebagai penasehat teknis pada pemerintah sedangkan F Stlitz sebagai pengusaha bangunan. Atas permintaan dari para pemakai jasa biro AIA, maka biro ini tak hanya merancang bangunan tetapi juga bertindak sebagai  kontraktor.

Dari sekian banyak gedung yang dirancang, ada satu bangunan bergaya Art Deco yang dinilai sangat penting dalam perjalanan arsitektur bergaya Indis, demikian yang tertulis dalam buku FJL Ghijsels: Architect in Indonesia. Bangunan itu tak lain adalah Stasiun Batavia Selatan (Batavia Zuid) atau yang kita kenal sebagai Stasiun Jakarta Kota dan biasa juga disebut Stasiun Beos.

Pada 8 Oktober lalu, tepat 80 tahun silam, stasiun ini diresmikan. Stasiun ini menggantikan stasiun lama, Batavia Zuid, yang tak lagi beroperasi sejak 1923. Pada 1926, Ghijsels bersama AIA mulai mendesain gedung tersebut. Dan tepat pada 8 Oktober 1929, sebuah selamatan digelar untuk keselamatan stasiun baru itu. Koran Javabode edisi 17 Oktober 1929 menuliskan, ”Stasiun Batavia Selatan merupakan stasiun yang sangat mengesankan dan merupakan stasiun tercantik di timur.”

Di depan stasiun ini, dulu, terbentang lapangan rumput luas yang dulu biasa disebut Stationsplein. Kini keberadaan lapangan itu sudah sangat menyempit dan makin sedikit karena menjadi halte akhir TransJakarta. Jalan di sekeliling lapangan, hingga kini, masih bernama Jalan Lapangan Stasiun (Stationsplein). Buku Architect in Indonesia itu juga seperti memberi jawaban terhadap pertanyaan tentang usia jam di tugu yang ada di tengah taman Stasiun Beos dan beberapa waktu lalu sempat lepas dari kedudukannya. Buku itu jelas-jelas menyebutkan, pada acara selamatan 8 Oktober 1929, karyawan kereta api mengubur dua kepala kerbau, yaitu satu di Stationsplein di antara jam dan pintu masuk utama, dan satu lagi di belakang bangunan baru tersebut.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 4.8 A A A
Ada 21 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
qwe @ Rabu, 28 Oktober 2009 | 12:50 WIB
tidak usah saling menyalahkan, apa diri kita telah menjadi warga negara yg baik. Indonesia jaya....
ilhamsyah arsyad @ Senin, 26 Oktober 2009 | 17:03 WIB
semakin tua peradaban seharusnya semakin pintar negeri itu.
Ichsan @ Senin, 26 Oktober 2009 | 14:45 WIB
Masyarakat sepertinya akan selalu menjaga kelestarian peninggalan sejarah/budaya, bila pemerintah konsisten. tapi nyatanya ......!!!!!!!
ariyadi @ Minggu, 25 Oktober 2009 | 14:32 WIB
segala sesuatu pasti ada negatif dan positifnya. termasuk dijajah. tapi kenapa bangsa indonesia tidak pernah mengambil positifnya saja. segala sesuatu yang negatif pasti negatif semua. aya aya wae bangsa ini.
Laurenz Moritz @ Minggu, 25 Oktober 2009 | 08:32 WIB
Mari kita semua menjaga melestarikan peninggalan(Salah satu gedung tua). Semua pihak harus ambil bagian. Dimulai dari pemerintahan dengan mencanangkan program-program pelestarian peninggalan budaya.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.