| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Dari Paal Merah Membawa Batik
Senin, 12 Oktober 2009 | 17:14 WIB

"PABRIK-pabrik kemedja di Paal Merah dan sekiternja dalem belakangan hari toemboeh bage djamoer di moesim oedjan...(Harian Oetoesan Nasional). Harga  kemedja terseboet djaoeh lebih moerah jaitoe antara 250 sampe 800 roepia selosinnja. Djika dibandingken kemedja Arrow didjoeal 170 roepia perboehnja, toko besar  the big five soeda padjang kemedja Paal Merah di etalase mereka, menandaken kemedja made in Paal Merah tida kalah dengen kemedja Arrow."

Demikian sebagian catatan yang ditulis Tjamboek Berdoeri 28, nama samaran yang selalu ia gunakan dalam dunia maya. Dalam kenangan atas kemeja Paal Merah itu, Tjamboek juga menyebutkan, "Paal Merah satoe antara 3 (doea laennja Karet dan Kebajoran) daerah pemboeatan batik dibilangan kota Djakarta jang soeda alamin kesoekeran, hingga banjak jang soedah oetjapken, "Selamet djalan".

Bicara soal batik, yang sedang panas dibicarakan di pelosok negeri ini, termasuk di Jakarta dan sekitarnya, ada baiknya kita melongok sebentar ke belakang. Yaitu ke saat usaha batik berkembang di Batavia dengan sentra- sentranya antara lain seperti yang sudah disebutkan Tjamboek, Paal Merah, Karet, dan Kebajoran.

Dalam Batikrapport, P de Kat Angelino - inspektur dinas pekerjaan - menuliskan hasil penelitian tentang usaha batik di Jawa antara lain di Batavia. Menurut Angelino, usaha batik di Batavia, yang dimulai abad 19, juga tersebar antara lain di Pelapetogagan, Gandaria Noord, Tjipoelir, Grogol-oedik, Soekaboemi-ilir, Meroeja-oedik, Karet Sawah, Bedoerengan, Karet (Passer Baroe). Usaha batik di Batavia lebih banyak dimiliki dan dioperasikan oleh pengusaha Tionghoa meski tak sedikit pengusaha pribumi yang membuka usaha batik. Di tahun 1929,  jumlah industri batik di Batavia sebanyak 357 dengan 264  industri dimiliki pengusaha Tionghoa dan 93 lainnya dimiliki pribumi.

Sementara itu dari hasil penelitian Dinas Museum dan Sejarah DKI tahun 1990 berhasil dikumpulkan beberapa nama pengusaha batik yaitu Hayadi dari Palmerah, Rusli Syarif yang bergerak di bidang batik printing, Peng Yam bergerak dalam batik sablon, Gunawan Satria, Tee Ke San, Nugraha, Nurman Lukito, dan Otong. Semua perusahaan sudah bangkrut kecuali milik Hayadi.

Munculnya usaha pembatikan di Palmerah mulai terasa tahun 1970 karena mulai muncul perusahaan tekstil yang membuat kain motif batik sehingga usaha kain batik tulis dan batik cap terdesak mundur dan akhirnya bangkrut.

Usaha pembuatan kain batik di Batavia pada awalnya dibawa oleh para pedagang batik dari daerah Jawa Tengah. Sebelum Perang Dunia I, pembuatan batik Batavia masih kasar karena bahan yang digunakan adalah kain tenun bikinan sendiri dan warna kainnya serupa dengan kain Banyumasan.  Menurut penelitian tersebut, setelah PD I, baru mulai ada kemajuan dengan munculnya alat batik canting cap.

Daerah pemasaran tekstil dan batik di masa itu adalah Tanah Abang, Jatinegara, dan Kota dengan pedagang Tionghoa dan Arab sebagai pedagang besar.

Di Batavia, tercatat tokoh Tionghoa yang berperan di Indonesia dalam Tokok-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, yang salah satunya adalah Lim Hiong Tjheng. Awalnya ia hanyalah pekerja di pabrik batik di Palmerah pada sekitar 1924. Namun kemudian ia malah memiliki pabrik batik sendiri bernama Hajadi dan hingga kini masih beroperasi.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 5 A A A
Ada 8 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
aldi @ Selasa, 1 Februari 2011 | 18:27 WIB
saya salah satu karyawan PT Batik hajadi ya memang Batik hajadi hingga kini masih buka tetapi sekarang sudah beralih dari pembuatan kain batik menjadi pembuatan furniture yang menggunakan motif dan tekstur batik.... banting stir dari dagang batik jadi dagang furnitur karena itu batik hajadi masih bisa buka sampai sekarang.......!!
teri @ Senin, 23 November 2009 | 16:30 WIB
Harus Kesana nih, boleh beli satuan kan
Ramayadi @ Sabtu, 31 Oktober 2009 | 14:12 WIB
Batik Indinesiaaaaaa . . . I love you fulllll . . .
ilhampulo @ Selasa, 27 Oktober 2009 | 09:16 WIB
hebat juga batik hajadi sampai sekarang masih eksis, kalau nggak salah bibi saya prnah kerja di sana sekitar tahun 76, semoga kenangan batik tersebut terus melekat di hati warga paal merah dan sekitarnya khususnya Kemanggisan pulo.
Darwin @ Rabu, 21 Oktober 2009 | 05:26 WIB
Salut untuk Batik Hayadi. Saya hanya berharap Tata Kota Jakarta mulai melestarikan bangunan yang punya nilai sejarah. Juga berharap 'Mereka' punya city planning for the future. Kita bisa lihat hasilnya dengan hilangnya Pohon-pohon besar sepanjang Thamrin, Bundaran Slipi, Orchid Garden (yang berubah menjadi mall). Bedanya pembangunan jalan layang tumpang tindih depan Taman Anggrek dengan bentuk daun semanggi (jembatan Semanggi) di Sudirman.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.