| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Koran Pertama di Batavia, Bertahan Dua Tahun
Jumat, 17 Juli 2009 | 11:15 WIB

KOMPAS.com — Pada mulanya adalah Benyamin Haris yang menerbitkan surat kabar pertama di Boston, Amerika, tahun 1690. Pada masa itu, kawasan tersebut masih jadi jajahan Inggris. Gaung penerbitan surat kabar yang sudah dikenal bangsa Eropa sejak abad ke-17 itu sampai juga ke Batavia. Izin menerbitkan surat kabar kala itu tak mudah sebab penguasa VOC alergi terhadap kritik atau sekadar komentar. Soal penguasa yang alergi kritik rupanya masih saja terbawa hingga di abad milenium ini.

Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, tak hanya membangun gedung Toko Merah, Academi de Marine, mendirikan masyarakat candu di Batavia, tetapi juga memperkenalkan warga Batavia dengan yang namanya surat kabar. Izin terbit surat kabar itu baru diberikan setelah sekitar lima bulan diajukan: 7 Agustus 1744 diajukan, izin terbit baru keluar Februari 1745. Sifat penguasa VOC yang enggan pada kritik menjadi salah satu alasan Imhoff ogah-ogahan menerbitkan izin. Padahal, isi surat kabar yang pertama kali terbit itu hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita perkawinan, kelahiran, dan kematian. Pembacanya juga terbatas pada masyarakat Belanda sendiri.

Bataviasche Nouvelles, begitu nama koran itu. Dari hanya berisi pengumuman, koran ini kemudian berkembang cepat menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC. Tepat pada 20 Juni 1746, demikian dicatat dalam buku Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepi Muara Ciliwung oleh Thomas B Ataladjar, koran pertama ini dibredel. Kiprah Imhoff  yang berusia pendek, meninggal pada tahun 1750 ketika ia masih menjabat sebagai gubernur jenderal, baru dilanjutkan 30 tahun kemudian. Verdu Nieuws meneruskan Bataviasche Nouvelles dalam bentuk surat kabar mingguan yang berisi iklan.
 
Koran lain, Al Juab, muncul di tahun 1795 yang berisi tentang agama Islam. Namun, koran ini tak bertahan lama. Koran berbahasa Melayu, dan merupakan koran pertama untuk umum ini, mati pada 1824. Pengganti surat kabar ini adalah Bianglala yang kemudian berganti nama menjadi Bintang Johar.

Sementara itu, nasib Verdu Nieuws atau Surat Lelang berganti nama menjadi Bataviasche Koloniale Courant di masa Daendels. Di masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbit surat kabar Java Gouvernment Gazette yang kemudian berganti nama menjadi Bataviasche Courant di saat Batavia kembali ke tangan Belanda. Koran ini terus hidup dan berganti nama menjadi Javasche Courant pada 1827. Di zaman Jepang, 1942, koran ini berganti nama menjadi Ken Po. Pada tahun 1852 muncul pula koran Java Bode yang bertahan hingga 1958.

Tahun 1870 hingga 1886 di Batavia ada surat kabar Bintang Barat yang terbit dua kali seminggu. Koran ini menjadi harian hingga 1889. Pada perkembangan selanjutnya, orang Tionghoa dan Belanda berperan penting dalam penerbitan surat kabar.  


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 4.4 A A A
Ada 7 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
deddyudvian @ Selasa, 21 Juli 2009 | 19:46 WIB
koran djadoel bisa buat cerita ke anak cucu nich.
deddyudvian @ Selasa, 21 Juli 2009 | 19:39 WIB
berarti dulu namanya courantnya belanda dong...koran overdoncret.....kwakwkawkak.tapi saya terimakasih bisa menikmati koran sampai sekarang dari waktu kewaktu.sampai detik ini masuk dimedia elektronik.
bitta @ Selasa, 21 Juli 2009 | 05:46 WIB
reminds me so much of Pramoedya Ananta Toer's Tetralogi Pulau Buru :) anyone interested in the development of newspaper in Indonesia should read the books.. nice article!
herry @ Senin, 20 Juli 2009 | 20:00 WIB
Bataviase Nouvelles terbit lagi di jaman sekarang kok. Di ambil sama mas Taufik. Cuman ngak tahu terbit rutin apa tidak. Masih mengambil tema Batavia - ada kesan tempo dulu nya.
muhammad iqbal (UNIMED) @ Senin, 20 Juli 2009 | 09:18 WIB
menambah referensi saya tentang koran di Indonesia.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.