| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Menyusur Bunker di MSJ
Inilah lorong bawah tanah (bunker) sepanjang 31 meter dengan lebar tiga meter dan tinggi 1,7 meter yang berada persis di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bunker ini semula diduga sebagai penjara bawah air dari masa VOC tetapi berdasarkan hasil penelitian, tempat ini dibangun antara tahun 1940-1942 sebagai tempat perlindugan dari serangan udara.
Sabtu, 16 Mei 2009 | 11:02 WIB

KOMPAS.com — Beragam bau tak sedap langsung menyebar ke atas begitu pagar bunker (ruang bawah tanah) di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ) dikeringkan dari air yang merendamnya selama puluhan tahun. Jumat (15/5) siang, upaya pihak MSJ menyedot air di dalam bunker selesai. Namun, pekerjaan tak berhenti sampai di situ karena masih tersisa lumut tebal yang warnanya sudah tak lagi hijau.            

Di air yang menggenang dalam bunker itu, anak-anak biasa berenang. Tak cuma berenang tentunya, segala air yang berasal dari tubuh mereka juga mereka buang ke "kolam" itu. Kotoran yang mengendap di dasar bunker bercampur lumut  kemudian dikerok. Lumut tebal di lantai bunker akan membuat siapa pun yang masuk ke dalam mudah terpeleset.

Hingga menjelang sore, bunker sudah aman untuk dirayapi. Yang pasti, bunker akan terus dijaga agar tak lagi digenangi air tanah yang selalu merembes dari lantai dan dari dinding di samping kanan/kiri, khususnya untuk merayakan Hari Museum awal pekan depan. Bunker ini hanya berupa lorong yang tak terlalu panjang. Data dari MSJ menyebutkan, lorong itu sepanjang sekitar 31 meter dengan lebar tiga meter dan ketinggian 1,7 meter. Konstruksi ruang bawah tanah itu tak lain adalah beton. Di kedua ujung lorong dipasang pagar.

Dari pengalaman pertama Warta Kota masuk ke dalam bunker—yang terakhir dibuka 10 tahun lalu itu—terdapat berderet seperti sisa fondasi bangku di kiri kanan lorong. Menurut arkeolog sekaligus Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat, sederet bekas fondasi itu mungkin sekali adalah bekas bangku.

Beberapa bukti foto yang diterbitkan d'Orient dan De Java Bode memang menunjukkan bahwa di dalam bunker biasanya terdapat bangku yang menyatu di dinding. Bangku itu biasanya memanjang mengikuti tembok ruang bawah tanah.

Jurnal Penelitian Sejarah dan Arkeologi tertanggal 8 Agustus 2000 yang dimiliki MSJ menyebutkan, keberadaan ruang bawah tanah ini sempat membuat heboh ketika tahun 1973 museum ini dipugar. Kabar yang menyebar adalah, ada penjara bawah air, di MSJ, dari zaman VOC. Tahun 1990, bunker ditutup dengan alasan demi keamanan. Tindakan itu menuai protes. Tahun 2000, lubang itu dibuka kembali dalam rangka penelitian.

Penelitian itu menyimpulkan, bangunan itu adalah sisa bunker untuk tempat perlindungan yang dibuat antara tahun 1940 dan 1942 oleh Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi Perang Dunia II. Dalam ruang perlindungan tertutup yang terbuat dari beton seperti yang ada di MSJ ini, sedikitnya harus memiliki ketebalan 15 cm agar tidak tembus pecahan bom/granat. Jika tidak dari beton, maka di antara dinding perlu diselimuti dengan kantong-kantong berisi pasir setebal 50 cm. Bisa pula ditambah lapisan kerikil atau tanah setebal 25 cm atau 75 cm. Dalam laporan penelitian di MSJ itu disebutkan pula, di kiri dan kanan dinding dipasang tempat duduk.

Bunker itu dibikin atas perintah Pemerintah Hindia Belanda, khususnya pada gedung-gedung pemerintah untuk perlindungan terhadap serangan udara.  Namun, kemudian rumah tinggal pun dilengkapi dengan ruang perlindungan bawah tanah.

Catatan hasil penelitian itu juga menyebutkan, perintah pembuatan bunker selain di MSJ, antara lain, juga di depan Museum Seni Rupa dan Keramik, di depan Departemen Keuangan, di Kramat Raya, dan sepanjang Jalan Kebonsirih.

Buat mereka yang penasaran pada keberadaan "penjara bawah air" yang disebut-sebut dari zaman VOC, silakan meluangkan waktu pada Senin (18/5) mulai pukul 15.00. Pada jam itu, kegiatan terkait Hari Museum Internasional (International Museum Day) dimulai. Termasuk pembukaan bunker di depan MSJ untuk umum.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 4.83 A A A
Ada 17 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Banu Gutomo @ Senin, 7 Juni 2010 | 12:00 WIB
Saya setuju dengan pendapat saudara Wawan Arema, bahwa ruang bawah tanah tersebut difungsikan sebagai pendingin ruangan, seperti yang terdapat pada gedung lawang sewu di semarang. Ruangan tersebut berisi air, saat udara memanas maka air akan menguap keatas, dan mendinginkan ruangan di atasnya.
wawan arema @ Jumat, 4 Juni 2010 | 09:20 WIB
menurut saya, itu bukan sebuah bunker untuk penjara... oleh Meneer - Meneer digunakan untuk pendingin gedung, mengingat pd wkt itu belum ada yg namanya "AC" makanya dibawah gegung diisi air yang berfungsi sbg "AC'.
abdel @ Minggu, 12 Juli 2009 | 01:17 WIB
lawang sewu kereta ea bisa dikendalikan gug
widya @ Jumat, 29 Mei 2009 | 17:48 WIB
museum sejarah jakarta ada di manas, sih? koq ga pernah tahu, ya?
bayu MW @ Selasa, 19 Mei 2009 | 18:23 WIB
wah gw g sempet liat hari senin kemarin ya acara buka bangker waduh kapan lagi di buka tuh bangker di kota tua
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.