| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Schutsel VOC Milik MSJ "Mejeng" di London
Schutsel atau pemisah ruang dari abad 18 yang selama ini menjadi koleksi Museum Sejarah Jakarta. Pemisah ruangan ini sekarang tengah berada di London, tepatnya di Victoria and Albert Museum untuk sebuah pameran bertema Baroque: Stye in The Age of Magnificence (1620-1800).
Sabtu, 11 April 2009 | 15:10 WIB

KOMPAS.com — Sejarah koleksi Museum Sejarah Jakarta dimulai ketika pada tahun 1788, Konselor Hindia Belanda JCM Radermacher, bersama para ilmuwan, mendirikan Perkumpulan Seni dan Ilmiah Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Tujuannya untuk melakukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan yang di dalamnya ada sejarah ilmu alam, arkeologi, dan etnografi dari seluruh nusantara.

Sejak abad ke-19, perkumpulan ini sudah memperoleh koleksi peninggalan arkeologi khususnya dari periode pra-Islam, seperti potongan uang dan naskah.  Hasil temuan itu bahkan sudah dipamerkan di Museum of Bataviaasch Genootschap van Kusnten en Wetenschappen (Museum Nasional) tahun 1868.  Di abad ke-20, museum ini sudah mengumpulkan berbagai ukiran kayu dan obyek seni lainnya berhubungan dengan sejarah Batavia.

Dalam buku Dari Stadhuis Sampai Museum yang ditulis Hans Bonke dan Anne Handojo, di tahun 1937, perkumpulan lain pun terbentuk, yaitu Yayasan Batavia Lama (Stichting Oud Batavia). Yayasan ini berencana membangun museum khusus sejarah Batavia, Museum Sejarah Batavia. Maka, koleksi berbau Batavia dari Museum of Bataviaasch Genootschap pun diboyong ke museum baru ini.

Pada dua tahun berikutnya, publik sudah bisa menikmati koleksi yang terdiri dari berbagai peralatan perak, lukisan, furnitur masa kolonial, buku, dan lainnya sebagai adopsi dari ruang pamer bertema "Compagniekamers (Kamar-kamar Company)". Masa jaya museum ini terganggu pada periode 1942-1945 saat Jepang masuk. Pada periode ini, banyak hal terjadi pada koleksi.

Yayasan Batavia Lama mengubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1950. Lembaga ini menjadi semacam pengatur dua museum, Museum Pusat yang semula bernama Museum of Bataviaasch Genootschap dan Museum Jakarta Lama yang semula bernama Museum Sejarah Batavia. Koleksi dari dua museum tadi kemudian diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada 1958. Pada sepuluh tahun kemudian, pemerintah memindahkan kembali sebagian koleksi ke Museum Jakarta Lama (kini Museum Sejarah Jakarta).  

Salah satu koleksi museum ini adalah schutsel atau pemisah ruang dari abad 18. Koleksi ini berasal dari ruang sidang Dewan Hindia Belanda di Kastil Batavia. Adolf Heuken menyebutkan, dewi kebijaksanaan—Dewi Pallas Athena—menjadi bagian sentral pemisah ruang itu. Di bawah mahkota terdapat lambang enam kota yang membentuk VOC, sedangkan di tengahnya ada lambang kota Batavia.

Pemisah ruang ini kini sedang berada di London, tepatnya di Victoria and Albert Museum dalam sebuah pameran bertema Baroque: Stye in The Age of Magnificence (1620-1800). Pameran ini dibuka pada 4 April-19 Juli 2009.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Share on Facebook
-
Nilai 5 A A A
Ada 1 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Yani Sumaryo @ Kamis, 16 April 2009 | 10:47 WIB
Asal jangan sampai lupa dikembaliin aja!
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.