| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Di Mana Letak Gerbang Amsterdam?
Gerbang ini merupakan pintu masuk ke Kastil Batavia bagian selatan. Jika dilihat dari Stadhuis, kini Museum Sejarah Jakarta (MSJ), gerbang ini ada di arah utara. Jarak antara gerbang dan Stadhuis sekitar 400 meter.
Selasa, 17 Maret 2009 | 10:57 WIB

KOMPAS.com — Beberapa waktu lalu, Warta Kota sudah menulis tentang Kastil Batavia. Kurang lengkap rasanya bicara kastil tanpa menyebut Gerbang Amsterdam atau Amsterdamsche Poort. Sejarah mencatat, kastil yang dibangun pertama kali pada 1619 oleh JP Coen, dan kemudian tahun 1627 kastil yang lebih besar kembali dibangun menggantikan kastil lama, rata dengan tanah di masa Gubernur Jenderal HW Daendels 1808/1809.

Dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, Scott Merrillees menulis, pada pertengahan abad ke-19 yang tersisa dari reruntuhan kastil itu hanyalah Gerbang Amsterdam. Gerbang ini adalah pintu masuk kastil bagian selatan. Jika dilihat dari Stadhuis, kini Museum Sejarah Jakarta (MSJ), gerbang ini ada di arah utara. Jarak antara gerbang dan Stadhuis sekitar 400 meter.

Sekadar informasi, Kastil Batavia jadi pusat pemerintahan, bisnis, dan lain-lain hingga sekitar tahun 1707. Kawasan itu makin lama makin tak sehat, kemudian ditinggalkan, pusat kota pindah ke kawasan yang lebih ke selatan berpusat di Stadhuis.

Gerbang Amsterdam yang waktu itu masih tersisa sudah mengalami beberapa kali perubahan. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750) merenovasi kastil bagian selatan termasuk Gerbang Amsterdam dengan gaya Rococo.

Setelah ditinggalkan Daendels yang membangun kota baru di kawasan yang lebih ke selatan lagi, Weltevreden (Lapangan Banteng), gerbang ini dipugar pada kurun waktu antara 1830 dan 1840. Patung Mars (dewa perang Romawi) dan Minerva (dewa kesenian Yunani) ditambahkan pada gerbang ini, keduanya seperti menjaga gerbang. Gerbang inilah yang kini bisa dilihat melalui foto-foto kuno.       

Pada April 1869, trem kereta kuda mulai beroperasi di Batavia. Rute trem ini dari Kanaal Weg (Jalan Tongkol) hingga ke Prinsenstraat (Jalan Cengkeh) terus hingga ke Stadhuisplein (Taman Fatahillah), Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) hingga ke Molenvliet (Jalan Gajah Mada). Karena pintu gerbang terlalu kecil, trem tak bisa lewat. Alhasil, jalur trem diubah melalui samping gerbang dengan menghancurkan sisi-sisi Gerbang Amsterdam. Lantas, demi pembangunan, seluruh gerbang pun dihancurkan.

Jika sisa gerbang itu masih ada, lokasinya ada di dekat pertemuan Jalan Cengkeh dan Jalan Tongkol. Di masa kini, memandang ke arah bekas gerbang—dari selatan—yang terlihat adalah jalanan rusak, kawasan kumuh, tempat lewat truk dan kontainer dengan jalur kereta api melintang.

Mungkin ada yang berharap agar replika gerbang itu dibangun kembali, sebagian ingin setidaknya ada tengara. Jawabannya sudah pasti, nanti bila tiba waktunya, saat ketika revitalisasi kota tua sudah semakin jelas arahnya; saat ketika semua tenaga, dana, dan kepentingan mengacu pada satu tujuan, menciptakan Kota Tua yang hidup kembali bukan cuma buat segelintir kelompok, tapi buat Jakarta.


WARTA KOTA Pradaningrum W
Share on Facebook
-
Nilai 5 A A A
Ada 9 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Yudy @ Kamis, 10 Februari 2011 | 00:10 WIB
sebagian bekas rel trem masih ada di samping jembatan didaerah Jl.gunung sahari (jembatan pintu besi),seingat saya sewaktu saya bertanya kepada ayah jalur trem adalah mulai dari bioskop rivoli-Salemba-RSCM-Raden Saleh-Kali Pasir-Gambir-Istana merdeka-Harmoni-Kota-Pasar Baru-Jl.Gunung Sahari Raya-Psr Senen-Tanah Tinggi dan kembali lagi ke Rivoli
wiryawan @ Rabu, 10 Juni 2009 | 20:35 WIB
sangat disayangkan gerbang ini hilang. seerti gedung harmonie yg dijadiin lap. parkir.. oh iya, saya pernah 'menemukan' sebuah jembatan trem tua di belakang RSCM, menyusur ciliwung. apakah ada yg punya info soal gambar rute jalur trem di jakarta tempo dulu? Terima kasih!
anto @ Selasa, 31 Maret 2009 | 19:53 WIB
andai sja kota batavia(kota tua jkt) tetap di kelilingi tembok2 besar, dan pintu besarnya, mungkin jkt dan kota tua'a akan lebih indah, dan menjadi objek wisata yang lebih menarik, lebih dari sekarang ini. mungkin juga di tambah seperti pembangunan gedung2 lama yng telah di hancurkan, dengan arsitektur yg sama. ada term, delman, sepeda...tanpa ada kendaraan brmotor. pasti itu akan lebih membuat jakarta cantik......
Adhy @ Senin, 23 Maret 2009 | 17:26 WIB
CMIIW, ketika Jepang menjajah, kedua patung itu lenyap. Ada yang mengatakan, kedua patung itu diambil oleh Jepang untuk dilebur dan dibuat senjata. Sayang sekali, kedua patung indah itu sudah tidak ada lagi. Ayo, dukung revitalisasi kota tua!
rizki @ Minggu, 22 Maret 2009 | 00:13 WIB
patung nya kmana....?????
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.