KOMPAS.com — Beberapa waktu lalu, Warta Kota sudah menulis tentang Kastil Batavia. Kurang lengkap rasanya bicara kastil tanpa menyebut Gerbang Amsterdam atau Amsterdamsche Poort. Sejarah mencatat, kastil yang dibangun pertama kali pada 1619 oleh JP Coen, dan kemudian tahun 1627 kastil yang lebih besar kembali dibangun menggantikan kastil lama, rata dengan tanah di masa Gubernur Jenderal HW Daendels 1808/1809.
Dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, Scott Merrillees menulis, pada pertengahan abad ke-19 yang tersisa dari reruntuhan kastil itu hanyalah Gerbang Amsterdam. Gerbang ini adalah pintu masuk kastil bagian selatan. Jika dilihat dari Stadhuis, kini Museum Sejarah Jakarta (MSJ), gerbang ini ada di arah utara. Jarak antara gerbang dan Stadhuis sekitar 400 meter.
Sekadar informasi, Kastil Batavia jadi pusat pemerintahan, bisnis, dan lain-lain hingga sekitar tahun 1707. Kawasan itu makin lama makin tak sehat, kemudian ditinggalkan, pusat kota pindah ke kawasan yang lebih ke selatan berpusat di Stadhuis.
Gerbang Amsterdam yang waktu itu masih tersisa sudah mengalami beberapa kali perubahan. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750) merenovasi kastil bagian selatan termasuk Gerbang Amsterdam dengan gaya Rococo.
Setelah ditinggalkan Daendels yang membangun kota baru di kawasan yang lebih ke selatan lagi, Weltevreden (Lapangan Banteng), gerbang ini dipugar pada kurun waktu antara 1830 dan 1840. Patung Mars (dewa perang Romawi) dan Minerva (dewa kesenian Yunani) ditambahkan pada gerbang ini, keduanya seperti menjaga gerbang. Gerbang inilah yang kini bisa dilihat melalui foto-foto kuno.
Pada April 1869, trem kereta kuda mulai beroperasi di Batavia. Rute trem ini dari Kanaal Weg (Jalan Tongkol) hingga ke Prinsenstraat (Jalan Cengkeh) terus hingga ke Stadhuisplein (Taman Fatahillah), Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) hingga ke Molenvliet (Jalan Gajah Mada). Karena pintu gerbang terlalu kecil, trem tak bisa lewat. Alhasil, jalur trem diubah melalui samping gerbang dengan menghancurkan sisi-sisi Gerbang Amsterdam. Lantas, demi pembangunan, seluruh gerbang pun dihancurkan.
Jika sisa gerbang itu masih ada, lokasinya ada di dekat pertemuan Jalan Cengkeh dan Jalan Tongkol. Di masa kini, memandang ke arah bekas gerbang—dari selatan—yang terlihat adalah jalanan rusak, kawasan kumuh, tempat lewat truk dan kontainer dengan jalur kereta api melintang.
Mungkin ada yang berharap agar replika gerbang itu dibangun kembali, sebagian ingin setidaknya ada tengara. Jawabannya sudah pasti, nanti bila tiba waktunya, saat ketika revitalisasi kota tua sudah semakin jelas arahnya; saat ketika semua tenaga, dana, dan kepentingan mengacu pada satu tujuan, menciptakan Kota Tua yang hidup kembali bukan cuma buat segelintir kelompok, tapi buat Jakarta.