| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Memandang Batavia dari Menara Syahbandar
INI merupakan gambar pada kartupos yang diterbitkan Japansche Toko K Shimane. Foto ini memperlihatkan kali Ciliwung. Fotografer berlokasi di Pasar Ikan. Foto mengarah ke tenggara. Di latar belakang terlihat Kanaalweg (kini Jalan Krapu). Sebuah jembatan terlihat yaitu jembatan Schijtbrug yang menghubungkan Jl Krapu dengan Jl Tongkol.
Jumat, 6 Maret 2009 | 10:12 WIB

Sekitar sebulan lalu, perumahan di "Kampung Akuarium" terbakar. Ketika itu kawasan Pasar Ikan, akses menuju kampung itu, masih tergenang air pasang. Karena penasaran ingin melihat di mana letak kampung itu Irfal Guci, yang  kini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Museum Sejarah Jakarta, mengajak Warta Kota memantau kampung dari atas Menara Syahbandar. Sesampai di atas sejauh mata memandang tampaklah rumah berjejal.

Di antara rumah yang berjejal itu terlihat asap masih membubung ke langit. Dari menara itu terlihat pula atap rumah yang hangus terbakar. Tampak atap-atap  bangunan tua di sana. Di sisi kiri terlihat jelas Museum Bahari sedangkan di sisi kanan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Posisi itu sebetulnya bukan posisi puncak menara. Dari puncak menara pemandangan tentu lebih menarik meski harus melawan hembusan angin yang lumayan kencang. Dari atas menara ini gambaran Batavia lama melintas. Uitkijk, begitu menara itu disebut dalam Bahasa Belanda, dibangun 1839. Bangunan ini untuk mengganti tiang bendera lama pada galangan kapal di Jalan Pakin. Dari sinilah kapal yang akan berlabuh diamati dan diberi tanda, demikian tulis Adolf Heuken dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta.

Bicara soal Menara Syahbandar, maka tak bisa lepas dari Bastion Culemborg. Bastion atau kubu pertahanan ini dibangun jauh lebih dulu yaitu tahun 1645 dan merupakan bagian dari tembok Kota Batavia. Culemborg tak lain nama kota kelahiran Gubernur Jenderal van Diemen (1593-1645).

Kubu pertahanan ini berfungsi sebagai pengawas mulut pelabuhan. Di dalam kubu inilah Menara Syahbandar kemudian dibangun hingga akhirnya pada abad 18 seluruh kawasan di sini menjadi tidak sehat. Sejak itu orang pun berpindah lebih ke arah selatan.

Dalam blog Priambodo Prayitno, bule yang lebih fasih sejarah Indonesia dan Jakarta khususnya, disebutkan atap genteng sisa Bastion Culemborg pun masih bisa dilihat dari atas Menara Syahbandar yang biasa disebut Menara Miring karena posisinya yang makin miring itu. Demikian pula bekas fondasi Vierkantburg  yaitu jalan protokol untuk para tamu berpangkat tinggi. Dari Menara Miring bisa terlihat pula bekas Stadsherberg, penginapan, dan Kleine Boom yaitu bangunan pabean. Termasuk tentunya tempat wisata yang dibuka sekitar tahun 1950-an, Akuarium yang kini biasa disebut Kampung Akuarium.


PRA
Share on Facebook
-
Nilai 4.67 A A A
Ada 0 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.