| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Citra Malam yang Negatif
Sejumlah turis mancanegara di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Pada malam hari, sebagian kawasan ini gelap karena tidak dilengkapi lampu jalan.
Selasa, 24 Februari 2009 | 17:33 WIB

Jika masih ada suara sumbang tentang kawasan Kota Tua, khususnya di malam hari, barangkali gambaran ini yang dimaksudkan. Gambaran suasana terang di satu sisi, tapi gelap di banyak sisi lain. Tak ada kegiatan yang menghidupkan kawasan ini begitu matahari merosot ke balik horison. Satu-satunya kafe yang tetap membuka diri bagi semua orang tak lain Kafe Batavia – ini di luar pembicaraan tentang tempat hiburan lain yang tak ditujukan bagi sembarang warga.

Bicara soal Taman Fatahillah, wajar saja jika sejak dibenahi tempat ini makin dirubung warga dari pagi hingga ke pagi lagi. Yang jadi soal bisa jadi adalah tak ada upaya menghidupkan kawasan ini. Pukul 15.00 museum di kawasan itu selesai beroperasi. Malamnya, ya terserah warga yang ingin memanfaatkan taman. Masih mau potret-potret, ngobrol, atau mojok di sisi-sisi gelap kawasan itu.

Motor bahkan mobil masih saja seliweran di taman yang lantainya makin banyak yang melesak itu. Tambahan, kondisi kaca lampu bahkan lampu yang dipasang di lantai taman makin memprihatinkan. Belum lagi tembok dan lantai yang bocel-bocel gara-gara pemain skateboard amatir yang banting-bantingan skateboard di lahan ini.

“Kalau Jumat, Sabtu rame bisa sampe pagi. Kalau diturutin bisa-bisa di sini terus, enggak ada sepinya,” ujar salah seorang pedagang minuman, Minggu malam. Dalam remang, memang terlihat orang masih memenuhi taman, bahkan meski jam sudah menunjukkan pukul 23.00, orang masih saja mengalir. Dalam remang pula terlihat pasangan-pasangan yang makin menikmati angin malam di atas motor di sisi tergelap taman, di bawah meriam, di bola-bola besi, di mana-mana.

Warta Kota tak hendak menghakimi siapapun yang ingin menikmati apapun di taman publik itu tapi alangkah lebih baik jika lorong di antara gedung Dasaad Musin dan Kantor Pos diberi penerangan yang sewajarnya. Sehingga tak perlu ada warga, yang sedang lewat, yang terkejut menemukan sepasang - Oh, maaf, sederetan pasangan - manusia yang tengah berasyik masyuk di atas motor di sudut tergelap.

Barangkali intinya adalah bagaimana seluruh pihak memanfaatkan kawasan sehingga kawasan tak hanya hidup di kala matahari menyemprotkan sinarnya. Yang terpenting adalah mengubah citra kawasan yang negatif (di malam hari) dengan berbagai kegiatan yang memaksa orang untuk terus lebih kreatif dan ujung-ujungnya bisa mengubah nasib kawasan ke arah yang makin menjanjikan.


Pradaningrum W
Share on Facebook
-
Nilai 3 A A A
Ada 3 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
deden sulaiman @ Senin, 6 April 2009 | 08:26 WIB
rasanya bangsa ini harus di pimpin sama bangsa luar...biar hidupnya teratur..
pengamat kota @ Rabu, 25 Februari 2009 | 15:55 WIB
Wah untuk kawasan Taman Fatahillah saja sudah susah ngurusnya apalagi keseluruhan daerah Kota Tua, lama-lama jadi wisata mistis deh, kayaknya sekarang juga sudah pantas tuh untuk wisata "Horror" minimal bisa ketemu arwah meneer atawa noni Belanda..hiiii..............!
alimuqowam @ Rabu, 25 Februari 2009 | 08:19 WIB
pemda DKI Jakarta... ha. ha. ha. jangan peduli. yang sudah di anggarkan saja tidak di kerjakan. lihat situs - situs benda CAGAR BUDAYA berapa yang rusak dan berapa yang sengaja di jual. bang FOKE harus mengakui aparat nya tidak punya kepedulian.
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.