Menjelajah kawasan Kota Tua di Jakarta seakan tak ada habisnya. Ibaratnya, tiap jengkal punya cerita. Namun yang jadi soal, kawasan ini masih harus terus dipoles supaya layak untuk dijual, meski sudah ada upaya ke arah sana. Salah satu masalah adalah begitu banyaknya gedung tua yang seharusnya layak ’dipamerkan’ ternyata dalam kondisi ’sekarat’, bahkan ambruk.
Selain gedung tua, secara fisik yang menarik dari Jakarta di abad silam tentu keberadaan pintu gerbang, kastil, dan tembok Batavia. Baiklah kita menengok ke yang terakhir saja, tembok Batavia. Tembok itu ramai diperbincangkan sekitar setahun lalu lantaran adanya pembangunan terowongan penyeberangan orang (TPO) yang memunculkan tembok yang diperkirakan dari abad ke-17 tersebut. Namun hingga kini tak terjawab, tembok apa sebenarnya yang melintang di TPO yang menghubungkan Stasiun Beos dan Museum Bank Mandiri itu.
Dari keempat sisi tembok yang dahulu kala mengelilingi kota Batavia, yang kini tersisa adalah tembok sisi barat dan timur saja. Itu pun tembok sisi timur sedang menanti ajal. Tembok sisi barat tak lain adalah tembok di sisi tembok Museum Bahari, sedangkan tembok sisi timur ada di Jalan Tongkol, kawasan yang kini menjadi pangkalan truk dan kontainer.
Tembok sisi timur yang biasa disebut Gudang Sisi Timur (Ostzydsche Pakhuizen) berada di kawasan yang tak nyaman untuk didatangi. Bukan cuma karena jadi pusat truk dan kontainer tapi juga karena jika musim hujan jalanan di sana sangat becek, sedangkan di musim kemarau sangat berdebu. Disebut Gudang Sisi Timur karena
posisi tembok Batavia itu ada di sisi timur gudang penyimpanan rempah-rempah di abad ke-18.
Lokasi tembok yang tak lagi utuh itu kini ada di lingkungan padat di wilayah Kelurahan Ancol dan Sungai Ciliwung. Keperkasaan tembok penjaga kota itu masih tersisa meski tak bisa menutupi kenyataan tembok itu menanti ajal. Lokasi itu kini dimiliki oleh Direktorat Peralatan TNI Angkatan Darat (Ditpalad).
Kisah Maastricht
Tanpa bermaksud membandingkan, Warta Kota hanya mencoba memberi nuansa lain pada urusan yang terkait warisan fisik berabad lalu. Kota kecil di ujung Tenggara Maastricht, Belanda, adalah kota benteng di masa lalu. Benteng-benteng itu dibangun tahun 1200-an namun hingga abad ke-21 semuanya masih bisa dinikmati dengan nyaman, tak terusik sentuhan modernisasi, malah makin mewarnai kota.
De Helpoort adalah pintu gerbang Maastricht dari tahun 1229 - tertua di seantero Belanda -yang masih tegak perkasa berdiri. Dua bastion, du Moulin Line (Hoge Fronten) dan Waldeck Bastion di Waldeckpark, juga masih sombong berdiri di sana. Demikian juga Tembok Pertama, Kedua, dan Ketiga (Eerste Omwalling, Tweede Omwalling, dan Derde Omwalling). Pemerintah kota Maastricht mempertahankan, memelihara, dan menjaga benteng serta pintu gerbang bersama tembok kota yang mengular di Maastricht. Keberadaan tembok, gerbang, dan bentengbenteng tersebut tak hanya sebagai penarik wisatawan tapi juga berguna bagi dunia pendidikan.
Ke sanalah pelajar mempelajari sejarah, warisan seni-budaya, atau arkeologi. Tak sekadar melihat tapi juga merasakan 'keuzuran' kota sekaligus memahami mengapa sebuah kota perlu mempertahankan aspek fisik tadi.