| KOMPAS.com | Bola | Entertainment | Tekno | Otomotif | Forum | Kompasiana | Images | Mobile | Dakode | Cetak | ePaper | Pemilu | PasangIklan | GramediaShop |
Novel Salah Asuhan versi Belanda
Rabu, 23 Desember 2009 | 16:51 WIB

PERJALANAN sejarah karya sastra Indonesia di masa pemerintahan Belanda sempat naik turun, pasalnya kesempatan mengembangkan kreativitas para sastrawan tetap saja dibatasi. Pembatasan ala pemerintah Belanda pernah terjadi pada karya Abdoel Moeis, Salah Asuhan. Alhasil Balai Pustaka yang kala itu di bawah pimpinan GWJ Drewes  nyaris tak bersedia menerbitkan novel tersebut.

Kenapa Salah Asuhan kena "cekal"? Tak lain karena kisah yang pernah dimuat  secara bersambung di harian De Express itu dinilai agak kontroversial di mata pemerintah Belanda. Padahal Komisi Bacaan Rakyat - kemudian menjadi Balai Pustaka (BP) - dibikin Belanda untuk membatasi bacaan liar yang diterbitkan penerbit pribumi.

Meski menyatakan pujian terhadap Salah Asuhan sebagai kisah yang memikat, namun Drewes tak bisa menutupi bahwa novel itu mengandung unsur "negatif" yang digambarkan pada tokoh perempuan Belanda. Maka akhirnya penerbitan novel itu perlu dipertimbangkan kembali. Drewes melihat pentokohan yang digambarkan oleh Hanafi terlalu menyudutkan pihak Belanda yang saat itu merupakan penguasa Indonesia. Jika novel tersebut dikeluarkan, dikhawatirkan akan memicu kritikan yang sulit untuk diatasi oleh BP.

Sudah tentu, sebagai direktur BP, Drewes memiliki hak untuk menerbitkan naskah menjadi buku melalui berbagai pertimbangan meskipun sejumlah redaktur pribumi di BP meloloskan karya tersebut dan menilai tidak ada hal negatif yang ada di dalam ceritanya.

Desakan BP dan keinginan Abdoel Moeis agar novelnya diterbitkan menyebabkan ia menyetujui keinginan Drewes, menuliskan kembali naskah baru Salah Asuhan terutama pada Hanafi dan Corie yang menjadi pusat dari seluruh cerita.

Dalam buku Pemahaman Salah Asuhan oleh Jamil Bakar, dijelaskan bahwa pada versi asli yang diterbitkan di harian De Express, Salah Asuhan menceritakan tokoh Corie, wanita Belanda yang menikah dengan pria pribumi bernama Hanafi. Corie diceritakan sebagai wanita pesolek yang senang dengan pergaulan bebas.        

Corie bahkan berani main dengan pria lain, padahal berstatus sebagai istri Hanafi.  Hanafi sudah tidak tahan dengan perilaku sang istri, ditambah  dengan begitu banyak perbedaan di antara mereka, maka muncullah kata cerai.  Setelah bercerai, Corie makin terjerumus dalam prostitusi dan akhirnya meninggal dunia karena ditembak mati oleh pelanggannya yang iri.

Sedangkan di novel Salah Asuhan terbitan BP, penggambaran Corie justru dibuat sebaik mungkin. Corie digambarkan sebagai wanita baik bak bidadari. Corie memang pada akhirnya meninggal dunia, tetapi sebagai perempuan terhormat.  Sayangnya, kita sudah tidak bisa membaca naskah asli. Jadi naskah yang beredar kini adalah naskah yang sudah mengalami perubahan akibat tekanan pemerintah Belanda.

Meski novel ini merupakan novel perubahan dari naskah aslinya, akan tetapi Abdoel Moeis tetap memberikan pendidikan kepada pembaca saat itu melalui karyanya. Sejumlah telaah tentang Salah Asuhan memperlihatkan bagaimana pentingnya kesadaran berbangsa dan tidak meninggalkan budaya bangsa. Meski Hanafi akhirnya digambarkan sebagai tokoh negatif, pria pribumi yang mencampakkan akar budayanya dan memilih untuk menjadi warga kulit putih, namun Hanafi tetap membawa pesan moral.

Novel Salah Asuhan ditulis awal tahun 1927 ketika Abdoel Moeis sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam (1912-1924) dan menjadi petani di Garut sejak tahun 1924. Naskah asli Salah Asuhan dikirim ke BP oleh Abdoel Moeis pada tahun 1928. Novel ini dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik serta kultural. (WIK)


Share on Facebook
-
Nilai 4.5 A A A
Ada 4 Tanggepan Untuk Artikel Ini. Posting Tanggepan Anda
bella @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 10:55 WIB
Nina, fil salah asuhan dah pernah di buat.. sutradara n taon berapanya aku lupa.. yang masih aku inget.. actornya yang meranin jadi si "Hanaf"i itu adalah almarhum Dicky Zulkarnaen (bapaknya Nia Zulkarnaen / suaminya Mieke Wijaya), actreessnya yang meranin si "Corry" aku juga lupa, kalo ndak salah Palupi sapa gitu.. abis tuch fil dah jd film clasic alias dah jadul banget.. aku nontonnya waktu SD di TVRI.. hehehe...
affan @ Rabu, 20 Januari 2010 | 07:25 WIB
@nina, mungkin bisa dilihat dari sampul bukunya... disitu ada 2 wajah, laki-laki dan perempuan, mungkin itu corie dan hanafi...
Nina @ Senin, 18 Januari 2010 | 14:01 WIB
ooo gitu ya... aku pikir naskah yg aku suka baca itu asli, ternyata ada badan sensor juga, baru tau... dipikir2, kalo dibikin film, si hanafi itu mestinya ganteng banget ya? sampe ada perempuan belanda yg suka dan mau merit sama dia. kapan ya difilm-in?
salman @ Selasa, 5 Januari 2010 | 13:15 WIB
sebuah pemikiran yang begitu maju akan efek akulturasi budaya. kawin campur antar ras memang punya konsekuensi spt dlm novel salah asuhan... dan kebanyakan benar terjadi di indonesia, apalagi bila yg lakinya pribumi dan perempuannya bule.... ada lebih baik sedikit kalo perempuan pribumi dan lakinya bule....
Posting tanggepan anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.