A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/allfunc.php

Line Number: 266

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/allfunc.php

Line Number: 350

KOMPAS.com - Perbedaan.di.Perbatasan.itu.Nyata.Adanya
Perbatasan Indonesia-Malaysia
Perbedaan di Perbatasan Itu Nyata Adanya
Dua warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, melintasi jalan akses perbatasan yang menghubungkan wilayah Indonesia dan Malaysia. Mereka baru saja pulang dari Biawak, Malaysia, untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari.
Senin, 19 Juli 2010 | 09:14 WIB

SANGGAU, KOMPAS.com — Masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia, lebih menyukai melakukan kegiatan jual-beli dan barter ke wilayah Malaysia karena mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Hal ini disampaikan oleh Dewan Adat Dayak Kecamatan Sekayam, Yordanus Pinjamin.      "Kalau berbicara nasionalisme, komitmen masyarakat perbatasan tidak perlu diragukan lagi. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tetap merupakan harga mati. Namun, untuk mata pencaharian, jual-beli, atau barter, warga perbatasan lebih memilih ke Malaysia," kata Yordanus Pinjamin di Balai Karangan, Sanggau, Senin (19/7/2010).      Menurut dia, masyarakat melakukan jual-beli ke Malaysia bukan karena harga barang lebih murah, melainkan karena di negeri jiran tersebut ada penampung hasil bumi yang sudah dikenal masyarakat, sedangkan di Kalbar atau Indonesia tidak ada.      Bahkan, katanya, barang masyarakat perbatasan di negara bagian Sarawak itu masih bisa dibarter dengan barang Malaysia yang mereka kehendaki. Pinjamin mengatakan, salah satu hasil bumi yang dijual adalah sayur-sayuran dan rempah-rempahan, seperti lada. Hasil bumi ini sangat diminati warga Malaysia.      Di samping itu, kondisi jalan ke tempat jual-beli di Malaysia bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja, sedangkan akses jalan darat di pasar kecamatan masih sulit dan kondisi alam mengharuskan warga menggunakan jalur sungai.      "Kegiatan warga pergi ke Malaysia hampir dilakukan tiap hari. Sebab, untuk pergi ke sana, bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam beberapa jam saja, terutama di daerah Pehuluan," ungkapnya.      Di samping itu, yang membuat warga perbatasan memilih ke Malaysia adalah adanya faktor kekerabatan. Selain itu, menurut dia, tidak sedikit dari warga perbatasan yang masih memiliki kaum kerabat yang tinggal di Malaysia.      "Jadi, ketika keluar-masuk Malaysia, tidak memiliki masalah berarti. Kita ini dengan warga negara tetangga masih satu rumpun," katanya.      Pinjamin menambahkan, ketika mencuatnya ketegangan kasus Blok Ambalat, yang membuat hubungan Indonesia-Malaysia memanas beberapa waktu lalu, warga perbatasan merupakan warga yang paling resah karena warga perbatasan khawatir konflik akan terjadi.      Menurut dia, kalau terjadi konflik, peralatan Malaysia di perbatasan terlihat lebih canggih dari milik Indonesia. Akses yang dibangun negeri jiran pun jauh lebih siap, baik akses kegiatan sipil maupun militer.      Ketua Dewan Adat Dayak Sekayam itu mengharapkan, Pemerintah Indonesia harus serius dan segera dalam melaksanakan pembangunan wilayah perbatasan karena kesenjangan pembangunan antara wilayah NKRI dan Malaysia tampak secara langsung.




Editor: Ignatius Sawabi
Sumber : ANT

0
0
A A A
Ada 24 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
young @ Selasa, 5 Oktober 2010 | 21:38 WIB
harga mati apa.....!!! tanah keluarga 1 keturunan bodoh kah kita berkelahi 2 berdik gara gara batas tanah batas negara....kita hanya di adu domba dari masa komprontasi dulu coba orang asli borneo bersatu.....
sumartowo paria @ Selasa, 20 Juli 2010 | 04:31 WIB
kita hanya punya 3K (kekuasaan, korup dan komentar)
Bijaksana bakr @ Senin, 19 Juli 2010 | 15:41 WIB
makanya hutan, minyak, batu bara, gas habis di sedot uang lari ke jawa, pembangunan trans kalimantan sangat jauh tertinggal dari jawa yg mau bangun jalan tol , pantas aja meradang...mending di jajah belanda dari pada jawa....ngga merata pembangunannya
Noerman Noer @ Senin, 19 Juli 2010 | 15:34 WIB
Apa yang di katakan tersebut memang itu adanya. Pemerintah tidak perduli akan hal tersebut,perbatasan dengan Malay dan Brunai sama sekali tidak tersentuh oleh pembangunan bahkan penduduknya memprihatinkan.Itulah bangsaku apa mo di kate.
Bijaksana bakr @ Senin, 19 Juli 2010 | 15:32 WIB
mendingan menjadikan borneo merdeka dari pada di jajah JAWA
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
5