A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/allfunc.php

Line Number: 266

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/allfunc.php

Line Number: 350

KOMPAS.com - Warga.perbatasan.berbahasa.malaysia
Tak Bisa Bahasa Indonesia dan Buta Huruf
Warga Perbatasan Berbahasa Malaysia
perbatasan Kalimantan-Malaysia
Rabu, 14 Juli 2010 | 12:28 WIB

ENTIKONG, KOMPAS.com — Sekitar 15 dusun di sepanjang perbatasan Sanggau, Kalimantan Barat (Indonesia), dan Sarawak (Malaysia) mengalami permasalahan tidak lancar berbahasa Indonesia dan buta huruf karena minimnya pembangunan bidang pendidikan di daerah tersebut.      Sebagian besar masyarakat yang menetap di wilayah pelosok terpencil perbatasan Indonesia-Malaysia menghadapi permasalahan dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, demikian dilaporkan dari Entikong, Rabu (14/7/2010).      Sulitnya masyarakat perbatasan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia itu juga dirasakan ketika mengunjungi warga yang menetap di delapan desa perbatasan yang terisolasi, di antaranya Desa Palak Pasang, Suruh Tembawang, Sungkung Satu, Dua, dan Tiga, Desa Unjak, Tawang, dengan jarak tempuh tujuh sampai delapan jam menggunakan transportasi sungai.      Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak dengan jarak tempuh terdekat 5 sampai 12 jam.  Rata-rata mereka tidak berpendidikan, khususnya para orang tuanya tidak paham bahasa Indonesia, dan dalam berkomunikasi selain menggunakan bahasa daerah, mereka lancar menggunakan bahasa Melayu Malaysia.      Seorang warga bernama Amai, dari Dusun Batu Ampar Sungkung, masuk wilayah Kabupaten Bengkayang, hanya bisa menggunakan bahasa daerah Sungkung Akit untuk berkomunikasi.      Menurut pemuda berumur 34 tahun itu, dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan karena di masa usia sekolah dahulu tidak ada sarana pendidikan di daerahnya.      Kondisi serupa diakui Dadak, warga Dusun Pool Entikong, bahwa di daerah Sungkung, Desa Pelosok, merupakan daerah terisolasi.      "Karena terisolasi dan minim pembangunan bidang pendidikan, warga yang menetap di wilayah perbatasan tidak lancar bahasa Indonesia," katanya.      Ia mengatakan, sekitar 15 dusun warga yang menetap di sepanjang perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, dengan penduduk rata-rata 700 jiwa, 30 persen di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf.      Sementara itu, Camat Entikong, Ignatius Irianto, mengakui kondisi ketertinggalan masyarakat yang tinggal di wilayah beranda negara Indonesia itu.




Editor: Ignatius Sawabi
Sumber : ANT

0
0
A A A
Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
tingai tingai @ Senin, 19 Juli 2010 | 17:19 WIB
cerita basi untuk pemerintah
Rajemi Westborneo @ Senin, 19 Juli 2010 | 13:01 WIB
Bung, Otonomi tdk memberikan kewenangan pengelolaan wilayah perbatasan kpd daerah, Apakah Anda tdk tahu itu? Pempus mmg hrs bertanggungjwb memajukan wilayah
benny lauw @ Senin, 19 Juli 2010 | 10:53 WIB
NEGARA DAH PIKIRIN DIRI SENDIRI..HO HO HO
polsan situmorang @ Rabu, 14 Juli 2010 | 14:36 WIB
mengapa harus presiden yang tengok kana ada gubernur dn bupati jangan sedikit2 presiden terus apa gunanya otonomi.........................ini membuat bangsa ini ga maju rakyat ga pernah menuntut kepada bupati yg dipilih nya sehingga bupati tidur2 aja.
Nicolas Tumewu @ Rabu, 14 Juli 2010 | 14:35 WIB
pemerintah harus tingkatkan pembangunan infrastruktur di dareah perbatasan.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
5