Rakyat Kecil
Kawula Alit yang Semakin Terjepit

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: views/read_view.php

Line Number: 458

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Trying to get property of non-object

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 489

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 489

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Trying to get property of non-object

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 496

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 496

Rabu, 28 Mei 2008 | 11:34 WIB

Paryanti (55) mengaku merasa serba salah. Satu porsi nasi rames yang kini dihargai Rp 2.500 diprotes para pelanggan. Namun, apa boleh buat, kalau tidak begitu, warungnya yang mati. Sebelum harga bahan bakar minyak naik, ia menjual satu porsi nasi dengan sayur dan lauk tempe atau tahu seharga Rp 2.000. "Sekarang sudah nggak mungkin lagi saya menjual segitu, apa-apa mahal," katanya saat ditemui di warungnya di Sagan, Yogyakarta, Selasa (27/5).

Istri dari Parno ini mengungkapkan, sebelum harga BBM naik pun sebetulnya ia sudah berat menanggung harga-harga bahan pokok yang meroket. Namun, ia belum berani menaikkan harga lantaran tidak tega. Akibatnya, pendapatannya berkurang.

Warungnya selama ini menjadi andalan para buruh bangunan serta pengemudi becak karena harganya yang terjangkau. Paryanti juga mengerti, penghasilan mereka yang menjadi langgannya tidak seberapa, namun ia sungguh serba salah.

"Dulu saya belanja Rp 100.000 saja sudah dapat banyak. Sekarang tak cukup, minimal Rp 200.000 untuk dapat barang yang sama, apalagi sekarang ongkos juga naik," katanya.

Paryanti bersyukur sudah mendapat kompor dan tabung gas konversi minyak tanah dari pemerintah sehingga ia bisa menghemat. Sebelum menggunakan kompor gas, penggunaan minyak tanahnya mencapai dua liter per hari atau jika dirupiahkan nilainya Rp 5.000. Sekarang hanya dengan Rp 13.000 ia bisa memasak untuk lima hari. Ini yang menolongnya tidak menaikkan harga sebelum harga BBM naik.

Ini pula yang dikeluhkan Rosidi (45), pemilik warung makan di Condong Catur, Sleman. Sudah lama pendapatannya berkurang lantaran tidak berani menaikkan harga. "Sebelum harga-harga naik, saya bisa mengantongi Rp 50.000 per hari. Sekarang kalau dapat Rp 20.000 saja sudah bagus," katanya.

Seperti halnya Paryanti, Rosidi tidak tega menaikkan harga makanan lantaran pelanggannya didominasi para sopir dan kondektur bus. Momentum kenaikan harga BBM ini dimanfaatkan Rodisi untuk menaikkan harga. "Saya tidak bisa lagi bertahan kalau harganya masih sama. Sekarang semua mahal," ujarnya.

Namun, masih ada warung makan yang belum menaikkan harga jual makanan mereka. Ngatman (40) yang membuka warung tenda di Kotabaru mengaku belum tega menaikkan harga jualan karena takut pelanggan akan lari. "Sekarang, semua sangat sensitif untuk harga. Masyarakat lagi susah karena harga BBM melambung tinggi," ujarnya.

Ia belum menaikkan harga. Satu piring nasi dengan lauk sayur dan sepotong ayam masih Rp 5.000. Gorengan tempe atau tahu maih Rp 500 satu biji. Padahal, sudah tiga hari ini harga minyak goreng dan tepung naik, dan sepertinya bisa terus naik.

"Saya beli minyak goreng curah sawit Rp 11.500, sudah naik Rp 500. Tepung terigu juga naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 7.000. Mau meniadakan gorengan, ya mustahil," kata dia sambil menambahkan ukuran gorengan tempe dan tahu tetap tidak berubah.

Ia sekarang menggunakan kompor gas, tak lagi memakai kompor minyak tanah karena minyak tanah makin sulit didapat. Namun, Ngatman tambah cemas karena harga elpiji isi tiga kg mulai naik sekarang Rp 13.500, padahal sebelumnya hanya Rp 13.000.

"Itu pun kalau beli di toko besar. Kalau membeli di toko kecil, harga elpiji isi tiga kg bisa Rp 14.000-Rp 14.500. Waduh, ini kok jadi begini. Kalau harga terus naik, lha bagaimana saya bisa kuat membeli. Kembali ke minyak tanah, ya sulit. Saya sudah capek antre, boros waktu dan tenaga," katanya.

Kekhawatiran pun dirasakan oleh konsumen warung makan. Waman (54), pengayuh becak yang biasa memangkal di Jalan Kaliurang, mengaku, akan mengganti menu makan jika kenaikan harga BBM sudah memengaruhi harga kebutuhan pokok.

Dengan pendapatan rata-rata Rp 30.000 per hari, Waman mengaku biasa makan tiga kali setiap hari. Untuk sekali makan, ia bisa menghabiskan Rp 4.000 dengan menu nasi, sayur, dan telor.

"Jika harga naik, saya ganti makan nasi sayur sama tempe saja, yang penting tetap tiga kali sehari. Soalnya jika dikurangi tidak akan kuat untuk mengayuh becak," katanya mengeluh.

Menurut Waman, kenaikan harga kebutuhan pokok akan semakin menyengsarakan rakyat kecil seperti dirinya. "Untuk makan saja susah apalagi untuk menyekolahkan anak," kata bapak tiga anak ini. (PRA/A02/A06)


pra; a02; a06

0
0
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
167