Setelah Pesta Itu Usai

Jumat, 18 Juli 2008 | 01:06 WIB

Pekan Olahraga Nasional XVII 2008 Kalimantan Timur bak pesta sesaat bagi warga setempat. Kompleks Stadion Utama Kalimantan Timur di Palaran—yang jauhnya sekitar 15 kilometer dari pusat kota—lebih mirip sebagai tempat rekreasi, tempat warga meluangkan waktu bersama keluarga masing-masing di akhir pekan.

Di GOR Bulu Tangkis, misalnya, sepanjang dua pekan terakhir banyak pedagang berjualan berbagai macam barang, terutama yang bergambar logo dan maskot PON. Kaus, celana, topi, dan jam tangan menjadi yang paling banyak diburu.

Namanya juga ”pesta olahraga”, harga yang dipatok pun melambung. Semangkok bakso tepung kanji dijual Rp 10.000, nasi soto ayam dengan beberapa irisan tipis daging ayam dihargai Rp 15.000 per mangkok. Bahkan, harga bisa naik-turun seenaknya. Semangkuk mi instan dengan segelas es teh yang semula dijual Rp 11.000 esok harinya berubah menjadi Rp 19.000.

Tidak heran kalau tak sedikit warga yang membawa perbekalan sendiri, menggelar tikar di trotoar, dan menyantap hidangan bersama semua anggota keluarga. Kebetulan, sembilan dari 13 hari resmi penyelenggaraan PON XVII (5-17 Juli 2008) adalah hari libur sekolah. Beramai-ramai warga Kaltim datang dengan berpakaian rapi, layaknya menghadiri hajatan besar, mulai dengan mengendarai sepeda motor hingga mobil bak terbuka.

Akan tetapi, tetap muncul pertanyaan dalam benak mereka, apa yang kelak akan terjadi pada kompleks stadion mewah ini yang terletak di balik bukit dan sudah mulai becek jika hujan turun. ”Mungkin kalau sudah tidak ada PON, tempat ini berubah jadi sawah,” kata Dodi, yang membawa tiga anaknya menonton pertandingan bulu tangkis.

Pekerja ikut berenang

Sejak hari Minggu (13/7), misalnya, pertandingan loncat indah dan polo air di GOR Aquatik Palaran sudah selesai. Pekerja di tempat itu pun kini leluasa ikut berenang.

”Mumpung sudah tak ada perlombaan. Kemarin-kemarin kami hanya bisa menonton,” kata seorang pekerja yang sedang asyik berenang di kolam polo air. Tepat di samping kolam polo air ada kolam untuk loncat indah dan di belakangnya terdapat kolam renang yang lebih dangkal. Tribun penonton pun sangat megah. Namun, ada saja yang bertanya: siapa yang akan menggunakan fasilitas yang jauh dari pusat kota Samarinda ini.

Meski sadar akan mahalnya perawatan kolam renang, Wakil Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Kaltim Yan Ishak yakin ini semua tak akan sia-sia. ”Ini bisa disiasati melalui kerja sama dengan swasta,” kata Yan. Apakah semudah itu jalan keluarnya? Kita lihat saja. (Lis Dhaniati/Yulia Sapthiani)

banner 300x250
banner 300x100
banner 300x100