

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Hampir setahun pascaerupsi, mata air di lereng Gunung Merapi belum juga hidup. Untuk mengatasi krisis air, Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) membangun instalasi air minum di Dusun Boyong, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman senilai Rp 472 juta.
Instalasi air ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air minum bagi 1.500 warga di tiga dusun, yaitu Tanen, wonorejo, dan Ponggol.
Peletakan batu pertama pembangunan instalasi air dilakukan Bupati Sleman Sri Purnomo, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun, dan Ketua Dana Kemanusiaan (DKK) Kompas M Nasir, Sabtu (16/9/2011) di Omah Petroek, Dusun Wonorejo, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman.
"Kami membawa kepedulian dari para pembaca untuk mengalirkan air kepada 1.500 warga di sini. Ini adalah perhatian dari masyarakat yang disalurkan lewat Kompas," kata Rikard.
Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, sebelum erupsi Merapi pada Oktober dan November tahun lalu, ketersediaan air minum di Kecamatan Cangkringan dan Pakem lebih dari cukup. Tapi setelah erupsi sumber air dari Umbul Wadon dan Bebeng macet total.
"Dulu kelebihan air sekarang jadi kekurangan air. Obyek wisata Kaliurang saja sampai saat ini harus disuplai dengan mobil tanki karena jaringan air di sana rusak total," ungkapnya.
Menurut Sri, total nilai kerusakan intalasi air akibat erupsi Merapi mencapai Rp 19 miliar. Karena itu, Pemkab Sleman dan masyarakat sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Kompas.
